Diposting : 12 July 2016 11:59
I Wayan Sudarsana - Bali Tribune
perploncoan
Keterangan Gambar: 
Walikota Denpasar ketika membuka MPLS secara serentak di Lapangan Lumintang.

Denpasar, Bali Tribune

Sebanyak 21.000 siswa SMP, SMA/SMK se-Kota Denpasar mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), mulai Senin (11/7). Pelaksanaan MPLS secara serentak di Denpasar dibuka secara resmi Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, di Lapangan Lumintang.

Kesempatan tersebut, Walikota Denpasar kembali menegaskan agar tradisi perploncoan pada penyelenggaraan MPLS yang sebelumnya dikenal dengan Masa Orientasi Siswa (MOS) harus dihapuskan. Rai Mantra meminta pada kegiatan MPLS harus lebih banyak ditekankan pada pengenalan lingkungan sekolah. Sehingga jangan sampai menimbulkan keluhan, menuai protes tidak saja bagi siswa baru, tetapi juga pihak orang tua.

Rai Mantra menjelaskan kegiatan MPLS sebagai salah satu upaya untuk pengenalan lingkungan yang baru serta berupa kegiatan positif untuk menghindari remaja dari pergaulan negatif, kenakalan remaja, tawuran, perkelaian dan penggunaan berbagai jenis obat-obat terlarang. Maka dari itu kegiatan MPLS harus dikemas dalam bentuk yang menyenangkan tanpa meninggalkan penegakan disiplin untuk memunculkan kreativitas dan pikiran positif dalam rangka membangun karakter diri.

Demikian pula, penyelenggraan MPLS ini juga harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan MPLS bagi peserta didik baru seperti yang tertuang dalam pedoman kegiatan masa orientasi peserta didik baru yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional melalui direktorat pendidikan dasar dan menengah yakni berupaya mengantarkan siswa agar lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan serta tata pergaulannya.

Jika dalam MPLS ada sekolah yang melanggar maka sanksi yang didapat adalah pemberhentian Kepla Sekolahnya. “Maka itu saya meminta agar Kepala Sekolah, guru, dan orang tua ikut mengawasi secara dekat kegiatan MPLS ini, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” harapnya.

Rai Mantra juga meminta agar para Kepala Sekolah (Kasek) agar berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Denpasar untuk melatih siswa-siswa menjadi jumantik mandiri sehingga dari 21 ribu siswa akan mendapatkan 21 ribu jumantik mandiri di Kota Denpasar. “Dengan bentuk jumantik ini dapat menekan jumlah penderita Demam Berdarah yang berakibat kematian. Selanjutnya Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan agar sejak dini memberikan pembelajaran kepada siswa agar peduli dengan sampah,” ujarnya.

Kabid Dikmen Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar Wayan Supartha menambahkan, jumlah peserta MPLS tahun 2016 ini diikuti 21.000 siswa dan dilaksanakan mulai tanggal 11 hingga 13 Juli mendatang. Pelaksanaan MPLS kemudian dilanjutkan dengan bakti sosial pada tanggal 14 Juli 2016 dengan kegiatan bakti penghijauan, pemberatasan sarang nyamuk di rumah-rumah penduduk yang ada di Desa dan Kelurahan sekitar sekolah. “Kerja bakti juga dilakukan di sekolah dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu, pantauan wartawan di sejumlah sekolah di Denpasar, memang pelaksanaan MOS atau MPLS kali ini tidak seperti pelaksanaan MOS tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada terlihat siswa yang mengenakan atribut-atribut yang aneh dan nyeleneh seperti atribut tas karung, tas belanja plastik, dan sejenisnya. “Pelaksanaan kali ini ya tidak begitu ada tugas berat, pakaian juga normal-normal saja, tapi ini baru hari pertama kurang tau besok bagaimana,” kata salah satu siswa di Denpasar yang enggan menyebutkan namanya.

Dikatakan, dalam hari pertama juga tidak ada penugasan-penugasan aneh seperti wajib membawa suatu produk dengan merk tertentu, memakan dan meminum makanan dan minuman sisa yang bukan milik masing-masing siswa baru, maupun adanya hukuman kepada siswa baru yang tidak mendidik seperti menyiramkan air serta hukuman yang bersifat fisik dan atau mengarah pada tindak kekerasan. “Hari pertama sih belum, tapi besok ndak tahu gimana,” katanya.