Diposting : 17 May 2016 11:04
San Edison - Bali Tribune
Munaslub
Keterangan Gambar: 
Koordinator Yellow Forum for Young Leader, Mirwan Vauly bersama kader muda Golkar saat memberikan keterangan di sela-sela Munaslub Partai Golkar, Senin (16/5).

Nusa Dua, Bali Tribune

Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar akan memasuki agenda krusial yakni pemilihan ketua umum. Jelang suksesi kepemimpinan ini, Komite Etik Munaslub Partai Golkar dan pemantau dari Yellow Forum for Young Leader, justru mengendus adanya praktik jual beli suara antara calon ketua umum dengan para pemegang hak suara.

Sayangnya, praktik transaksional ini sulit dibuktikan. Hanya saja dari fenomena yang terjadi di arena Munaslub, tanda-tanda adanya politik uang ini sudah mulai terlihat. Puncaknya ketika sejumlah pemilik hak suara, dalam pandangan umumnya dengan tegas menyebutkan nama calon ketua umum yang dijagokan. Hal ini diindikasikan telah terjadi sesuatu jelang pemilihan ketua umum ini.

"Kami tidak mengatakan bahwa Munaslub kali ini bersih dari politik uang. Kalau kami mengatakan Munaslub kali ini bersih dari politik uang, maka itu terlalu naif," ujar Ketua Komite Etik Munaslub Partai Golkar, Fadel Muhammad, saat memberikan keterangan pers di Bali Nusa Dua Convention Center, Senin (16/5).

Menurut Fadel, dirinya sudah empat kali mengikuti Munas. Bahkan beberapa kali dirinya juga dipercaya menjadi pimpinan sidang. "Biasanya pada malam menjelang pemilihan ketua umum, terjadi deal-deal, terjadi transaksi-transaksi. Dan semua orang tahu itu," tandasnya.

Sayangnya, Komite Etik Munaslub kesulitan untuk membuktikan terjadinya politik uang. Ini karena tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk dinaikkan ke proses Persidangan Etik. "Kami sulit membuktikan, karena kami juga tidak punya bukti. Jika seandainya ada bukti, kita akan proses sampai last minute, termasuk menghentikan sementara agenda Munaslub," tegas Fadel.

Secara terpisah Koordinator Yellow Forum for Young Leader, Mirwan Vauly, mengatakan, dari hasil pantauannya bersama kader-kader muda Golkar, ada indikasi kuat adanya politik transaksional jelang pemilihan ketua umum di arena Munaslub. "Indikasi itu ada. Itu dari hasil pantauan, juga hasil bincang-bincang kami dengan para pemilik suara," paparnya.

Ia mengaku, Yellow Forum for Young Leader memang tidak memiliki bukti soal dugaan ini. "Namun dalam pandangan umum DPD, ada yang sudah menyebut nama. Itu pasti ada sesuatu. Itu adalah signal, penanda, dan jelas arahnya. Mestinya itu tidak boleh," ujar Mirwan.

Dikatakan, ada puluhan kader muda Golkar yang tergabung Yellow Forum for Young Leader. Dengan modal sendiri, mereka hadir di Munaslub, dengan harapan tinggi agar Munaslub ini menghasilkan sesuatu yang luar biasa, baik soal cara memilih maupun pemimpin yang dihasilkan.

"Setelah beberapa hari ini kami pantau, ternyata tak ada yang luar biasa. Yang ditampilkan para senior adalah pragmatisme. Ini tak baik bagi Golkar ke depan, karena sudah terpuruk akibat konflik internal, dan Munaslub juga tidak luar biasa," tegas Mirwan.

Hal lain yang membuat Munaslub menjadi tidak luar biasa, karena perdebatan soal mekanisme pemilihan ketua umum. "Bayangkan kalau pemilihan dalam Munaslub ini dibuat terbuka, dibikin tidak rahasia. Bagaimana caranya memilih secara bebas, tanpa intervensi, tanpa bayar membayar, kalau terbuka? Bagaimana bebas memilih kalau tidak bebas, tidak rahasia?" ujarnya.

Karena itu, ia mengajak para pemilik suara, agar memikirkan masa depan Partai Golkar. Termasuk memikirkan upaya rekonsiliasi serta bagaimana memenangkan Pilkada dan Pilpres/Pileg mendatang. "Kami akan bagi bunga mawar kepada peserta. Ini simbol agar mereka memilih dengan damai, dengan cinta, dengan hati, sehingga hasil Munaslub ini menjadi luar biasa," pungkas Mirwan.