Bali Tribune, Selasa 12 Desember 2017
Diposting : 15 May 2017 20:03
release - Bali Tribune
GRAFIS
Keterangan Gambar: 
GRAFIS – Salah satu karya grafis “Explora(c)tion” yang dipamerkan di Bentara Budaya Bali,13 – 25 Mei 2017.

BALI TRIBUNE - PAMERAN seni grafis melibatkan para pegrafis yang tergabung dalam Komunitas Studio Grafis Undiksha digelar di Bentara Budaya Bali, 13 – 25 Mei 2017.  Merujuk tajuknya, yakni “Explora(c)tion”, gagasan dasar pameran ini berupaya mempertautkan semangat untuk melakukan eksplorasi dan penjelajahan aksi melalui Studio Grafis Undiksha, wahana pergaulan kreatif yang guyub gayeng.

Menurut sang kurator, Made Susanta Dwitanaya, setiap kreator yang terlibat di dalam program ini dibebaskan mengekspresikan pencarian masing-masing, seturut pilihan teknik, ragam stilistik, maupun estetiknya.

Para pegrafis Bali Utara yang berpameran antara lain: Hardiman, Kadek Septa Adi, I Nyoman Sukerta Yasa, I Putu Aditya Diatmika, Ni Luh Pangestu Widya Sari, I Gede Riski Soma Himawan, Ni Luh Ekmi Jayanti, Dewa Made Johana, Gde Deny Gita Pramana, Irma Dwi Noviani, I Kadek Budiana, I Putu Nana Partha Wijaya, I Kadek Susila Priangga,  Mirza Prastyo, Pande Putu Darmayana, I Nyoman Putra Purbawa, Saupi, I Gede Dwitra Natur Artista, Kholilulloh.

Serangkaian pameran ini diselenggarakan pula workshop serta diskusi seni rupa, Selasa (23/5). Workshop akan mengulas mengenai teknik linocut (cukil kayu). Workshop yang ditujukan bagi pelajar dan mahasiswa ini dipandu oleh I Nyoman Putra Purbawa bersama para pegrafis lainnya. Sedangkan dalam diskusi akan dibahas mengenai Seni Grafis dalam Pendidikan Seni  bersama Hardiman Adiwinata dan I Made Susanta Dwitanaya.

Seni grafis terbukti telah turut mewarnai konstelasi seni rupa kontemporer Indonesia. Kehadirannya kini memiliki peluang yang besar untuk berkembang secara dinamis melalui berbagai ragam medium berikut presentasinya; mulai dari karya- karya cukil,  stensil, etsa, sablon, serta cetak digital, tentu dengan tetap mengacu dan berpegang pada konvensi seni grafis sebagai seni cetak.

Namun menurut Susanta, dalam konteks seni rupa Bali aktivitas seni grafis tampaknya masih belum begitu menggeliat jika dibandingkan dengan  daerah lainnya di Indonesia sebut saja di Yogyakarta ataupun Bandung. Agenda-agenda seni rupa di Bali yang khusus menampilkan karya- karya seni grafis masih terbilang minim, sehingga pewacanaan tentang seni grafis di Bali nyaris sangat jarang terdengar.

Minimnya pewacanaan terhadap perkembangan seni grafis di Bali secara tidak langsung juga menjadi ruang untuk mempertanyakan ihwal proses regenerasi dalam perkembangan seni grafis di Bali. Di Bali ada beberapa perguruan tinggi ataupun lembaga pendidikan dengan basis kesenirupaan di dalamnya, dan hal ini tentu saja adalah salah satu potensi yang bisa digerakkan lebih jauh untuk melakukan proses tranfer pengetahuan yang dapat menstimulus dalam menggeliatkan gairah para pegrafis pegrafis muda untuk berkarya pada jalur seni grafis.

Peran lembaga pendidikan kesenirupaan di Bali bisa menjadi salah satu ranah yang penting dalam mengembangkan seni grafis di Bali. Namun dari beberapa lembaga pendidikan kesenirupaan di Bali sampai saat ini masih belum ada yang memiiki program studi ataupun jurusan yang khusus seni grafis. Seni grafis baru menjadi mata kuliah dengan jumlah SKS yang minim, ataupun baru menjadi salah satu pilihan konsentrasi pada mata kuliah Tugas Akhir seperti yang diterapkan di Prodi Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja.

Berangkat dari hal tersebut, maka para perupa yang berasal dari dosen, mahasiswa dan alumni Prodi Seni Rupa Undiksha yang memilih untuk menekuni seni grafis sebagai pilihan kreatif mereka dalam berkarya seni rupa, menggagas sebuah pameran bersama yang terbingkai dalam sebuah tema kuratorial “Explora(c)tion”. Pameran ini menghadirkan bingkai kuratorial yang sedemikian cair dalam artian tidak menghadirkan isu atau tema yang spesifik, hal ini bertimbang pada sangat beragamnya kecenderungan gagasan masing-masing perupa yang tidak mungkin dapat diringkas dalam satu tema yang spesifik. Sehingga bingkai kuratorial ini diarahkan pada usaha untuk merayakan keberagaman gagasan tematik serta upaya untuk  menelisik dan mempresentasikan bagaimana ihwal proses eksplorasi gagasan, medium, dan teknik pada karya para perupa masing masing.

Kompetisi Trienal

Bentara Budaya sendiri secara konsisten menyelenggarakan Kompetisi Trienal Seni Grafis Indonesia sedini tahun 2003 dengan beragam tematik yang terbukti memicu kreativitas para pegrafis. Bahkan pada penyelenggaraan ke-5 tahun 2015 lalu, kompetisi itu diperluas, berskala internasional. Tercatat 355 karya dari 198 peserta, berasal dari berbagai kota di Tanah Air dan luar negeri meliputi sejumlah negara di Amerika Latin, semisal: Argentina, Brazil, Peru, Kolombia, serta negara-negara lain seperti: Kroasia, Australia, Belgia, Bulgaria, Kanada, Cina, Italia, India, Jepang, Jerman, Malaysia, Mesir, Polandia, Serbia, Spanyol, Swedia, Thailand dan Turki.

Pemenang pertama diraih oleh Jayanta Naskar (India), pemenang kedua adalah Puritip Suriyapatarapun (Thailand) dan pemenang ketiga yakni Muhlis Lugis (Indonesia). Karya-karya seni grafis Jayanta Naskar termasuk yang meraih juara pertama telah dipamerkan di empat venue Bentara Budaya sepanjang tahun 2016, khusus di Bentara Budaya Bali berlangsung 14-27 Januari 2017. Demikian juga pemenang kedua dan ketiga berkesempatan menyelenggarakan pameran tunggal grafis di empat venue Bentara Budaya.