Bali Tribune, Senin 28 Mei 2018
Diposting : 6 October 2017 22:33
Redaksi - Bali Tribune
Willem Rampangilei
Keterangan Gambar: 
Willem Rampangilei

BALI TRIBUNE - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang masa tanggap darurat Gunung Agung, yang sedianya berakhir pada Jumat (6/10) hingga tanggal 26 Oktober mendatang. Demikian disampaikan Kepala BNPB, Willem Rampangilei.

Kepada wartawan di Posko Komando Tanggap Darurat Gunung Agung, di Pelabuhan Tanah Ampo, Manggis, Karangasem, Kamis (5/10), dia menjelaskan, diperpanjangnya masa tanggap darurat dengan berbagai pertimbangan, di antaranya melihat kondisi perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Agung yang masih tinggi dan cenderung mengalami peningkatan.

Terkait rencana pemusatan lokasi pengungsi, pihaknya menegaskan jika itu masih sedang dalam proses. Saat ini pihaknya tengah mengumpulkan data yang akurat terkait jumlah pasti pengungsi yang ada.

“Tadi kami mendapatkan data terbaru jumlah pengungsi sudah mencapai 150 ribu (jiwa), nah jumlah ini malah cenderung meningkat. Artinya kami harus lebih intens lagi memberikan pemahaman dan mengedukasi masyarakat,” tandasnya.

Untuk mitigasi bencana, pihaknya mengakui inilah tantangan yang sedang dihadapi, dimana masih adanya warga yang berada di zona berbahaya radius 12 kilometer, yang masih memaksa tinggal di rumah mereka dengan alasan mereka memiliki ternak yang harus diurus. “Memang masih banyak ternak warga yang belum dievakuasi. Karena itu kami akan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk mempercepat proses evakuasi,” imbuhnya.

Apalagi saat ini Bupati Bupati Karangasem sudah menyiapkan lahan seluas 300 hektare untuk pakan ternak warga yang mengungsi. Sedangkan dari Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan pakan ternak dan vaksin. “Saat ini masih ada sekitar 10 ribu ekor ternak warga yang belum dievakuasi dari zona berbahaya radius 12 kilometer,” bebernya.

Pihaknya juga menegaskan soal 28 desa yang masuk zona berbahaya 12 kilometer, dimana awalnya hanya 27 desa namun terakhir dalam rakor bertambah 1 desa lagi yakni Desa Kangin. Lantas mengenai wilayah Kota Amlapura, pihaknya menegaskan jika itu merupakan zona aman. Namun ada beberapa desa di wilayah kota yang masuk dalam zona kuning. Untuk itu pihaknya sudah menyiapkan dua skenario tanggap darurat. Yang pertama jika terjadi erupsi tanpa terjadi hujan lebat setelahnya, dan erupsi yang setelahnya terjadi hujan lebat.

“Kami masih fokus pada skenario jika terjadi erupsi tanpa terjadi hujan lebat, artinya radius berbahaya 12 kilometer itu yang menjadi fokus kami. Namun jika nantinya terjadi hujan lebat, dan terjadi banjir lahar dingin, maka ada beberapa wilayah di Kota Amlapura yang akan terkena dampak dan saat itulah skenario kedua dijalankan,” pungkasnya.