Diposting : 10 October 2018 07:25
Djoko Moeljono - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
ALUTSISTA – Salah satu kendaraan tempur milik TNI AD buatan Pindad yang disiagakan di sekeliling wilayah Bali untuk mengamankan perhelatan akbar Annual Meetings IMF-WB 2018.
BALI TRIBUNE -  Memasuki hari kedua pelaksanaan Annual Meetings IMF-WB 2018, para delegasi dari beberapa negara masih terus berdatangan untuk menghadiri perhelatan akbar tersebut yang berlangsung 8-14 Oktober 2018, di Nusa Dua.
 
“Pertemuan tahunan IMF-WB 2018 ini bakal dihadiri sekitar 34 ribu peserta dari 189 negara, termasuk puluhan kepala negara dan pejabat VVIP lainnya,” ujar Kapendam IX/Udayana Kolonel Kav Jonny Harianto G, SIP., di Posko Pamwil Nusa Dua, Selasa (9/10).
 
Untuk mengamankan pelaksanaan event tersebut, ribuan petugas keamanan dari unsur TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya yang tergabung dalam Satgas Pamwil dan Satgas Evakuasi juga sudah siap memberikan keamanan maksimal.
 
Diharapkan event berskala internasional tersebut dapat berjalan aman, lancar, nyaman, dan sukses, sesuai arahan Kasum TNI Laksamana Madya TNI Dr Didit Herdiawan Ashaf, MPA., MBA., selaku Pangkogabpam IMF-WB Annual Meetings 2018 saat memimpin apel Gelar Pasukan di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Renon, Denpasar, Minggu (7/10) lalu.
 
Pengamanan dari segala lini, baik darat, laut, dan udara juga sudah disiagakan secara intensif di sekeliling Bali. Sejumlah alutsista milik TNI telah “all out” dan sedikitnya telah disiagakan 10 kapal perang milik TNI-AL di bawah pimpinan Dansub Satgas Laut untuk melakukan penyekatan di wilayah perairan laut Bali dan sekitarnya.
 
10 KRI yang kini telah mengepung wilayah Bali masing-masing, KRI Raden Edi Martadinata-331, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-335, KRI Nala-363, KRI Badik-623, KRI Terapang-648, KRI Ajak-653, KRI Pulau Rapat-712, KRI Banda Aceh-593, dan KRI Tarakan-905. Ditambah sejumlah Kapal Angkatan Laut (KAL), searider, combat boat, speed boat, dan rubber boat yang bisa sewaktu-waktu digerakkan dengan mudah dan cepat untuk melakukan manuver.
 
Demikian pula dari Satgas Udara juga sudah menyigakan sejumlah pesawat tempur, belasan heli milik TNI-AU, TNI-AL maupun TNI-AD, Polri, dan Basarnas untuk mengamankan wilayah udara Pulau Bali dan sekitarnya. Termasuk secara rutin dan intensif melaksanakan patroli udara sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, mulai pagi, siang, sore hingga malam hari dengan menggunakan perangkat “Night Vision Goggles” (NVG) yang merupakan piranti sangat penting bagi operasi militer di malam hari.
 
Kemudian dari unsur darat, sejak awal Oktober lalu telah disiagakan ribuan unit kendaraan roda dua dan empat dari semua unsur terkait untuk melakukan pengawalan terhadap para delegasi ke sejumlah titik lokasi acara, termasuk pengerahan sejumlah kendaraan tempur yang merupakan alutsista TNI.
 
Tindakan pengetatan dan perlakukan sterilisasi tidak hanya diberlakukan di sekitar lokasi yang dijadikan ajang perhelatan akbar tersebut di Nusa Dua, namun juga digelar di beberapa lokasi yang merupakan objek vital dan strategis. Termasuk di beberapa pelabuhan dan penyeberangan, seperti di Padangbai dan Gilimanuk juga sudah diperketat pejagaannya, terutama terhadap para penumpang yang hendak masuk ke Bali.
 
Begitu pula di beberapa penyeberangan lokal atau yang lazim disebut sebagai jalur tikus juga tidak luput dari pemantauan dan penjagaan secara ketat. “Namun dengan  demikian ketatnya pengamanan ini, bukan berarti bersifat jor-joran, sangar, dan menakutkan. Ketat dalam artian tidak terlepas dari prosedur yang sudah ditetapkan, di mana semua petugas diperintahkan untuk selalu bersikap santun dan ramah serta tidak meninggalkan adat istiadat dan budaya daerah setempat,” jelas Kapendam.