Bali Tribune, Minggu 22 April 2018
Diposting : 12 April 2018 18:27
Khairil Anwar - Bali Tribune
Sanitasi
Keterangan Gambar: 
Bupati Putu Agus Suradnyana buka kran air bersih menandai telah dibangunnya jaringan pipa air di Desa Madenan, Rabu (11/4) kemarin.

BALI TRIBUNE - Krisis air di Desa Madenan,Kecamatan Tejakula mulai berhasil diatasi menyusul proyek air bersih senilai Rp 3 miliar lebih telah rampung digarap.Sebelumnya,Desa Madenan dengan empat desa pakraman dibawahnya selalu kesulitan air  saat musim kemarau tiba.Berbagai cara telah dilakukan termasuk melakukan kordinasi dengan kementrian dan pemerintah Provinsi namun upaya itu gagal.

Hal ini dibenarkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana usai meresmikan saluran air bersih di Desa Madenan, Rabu (11/4) kemarin. Dikatakannya, pembangunan jaringan pipa sepanjang 16 Km itu menggunakan anggaran APBD.

”Jujur saja permasalahan ini ada jauh sebelum saya jadi bupati. Upaya telah dilakukan sampai bolak-balik ke provinsi hingga ke kementrian belum juga menemui hasil hingga akhirnya pembangunan infrastruktur air bersih bisa  dibangun dengan dana APBD Kabupaten Buleleng,”ungkap Agus.

Ia menambahkan,pembangunan saluran air bersih ini memerlukan waktu yang sangat panjang dan proses berliku. Terlebih masyarakat setempat sering mempertanyakan persoalan itu karena berlangsung hampir setiap tahun.


Akhirnya kata Agus,anggaran untuk membangun infrastruktur air itu diambil dari anggaran ABPD Buleleng sebesar Rp 2,7 miliar.

Selain itu,anggaran dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) sebesar Rp 380 juta serta penyerta desa sebesar Rp 50 juta.

”Saat ini infrastruktur air bersih tersebut sudah mengaliri empat desa adat yang ada di Desa Madenan,” tandasnya.

Sedangkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Buleleng, Ketut Suparta Wijaya, ST dalam penjelasannya mengatakan,ia sempat menghadapi kendala karena proses perizinan dari Kementrian Lingkungan Hidup cukup memakan waktu.Pasalnya,jaringan pipa air tersebut melintasi Kawasan Hutan Lindung Bali Timur di Kintamani.
“Lokasi mata airny berada dikawasan hutan lindung dan izin pemanfaatnya cukup lama nyangkut di kementrian.Namun syukur akhirnya bisa tuntas,”ujarnya.

Mengingat tingkat kesulitan cukup tinggi untuk merawat dan mengelola jaringan pipa tersebut,menurut Suparta,pihaknya menggunakan tenaga professional dan handal disebabkan sumber mata airnya berada dikawasan hutan lindung dan jaringan pipanya melewati jurang.

”Kami menggunakan tenaga pengawas yang cukup professional dan handal untuk mengatasi problem jarak dan lokasi mata air yang cukup jauh,”pungkasnya.