Bali Tribune, Selasa 21 November 2017
Diposting : 4 October 2017 20:26
Hendrik B Kleden - Bali Tribune
blues
Keterangan Gambar: 
Pendiri Komunitas Bali Blues Island

BALI TRIBUNE - DIMASA kejayaannya musik blues  memiliki banyak penggemar termasuk  Bali.Hampir setiap  kafe-kafe di pulau  selalu mendatangkan  band  blues  menghibur tetamu mereka.

Seiring dengan  perkembangan teknologi multi media, perlahan  musik yang  yang lahir  dari musik-musik spiritual dan pujian yang muncul dari komunitas mantan budak-budak Afrika di AS  mulai ditinggalkan. Tak sedikit band-band yang semula memainkan musik blues, kini berganti genre.

Kendati demikian, masih ada musisi Bali yang tetap  melestarikan  genre musik  yang  lahir dari istilah blue yang dikonotasikan dengan perasaan frustatif dan melankolis.

Bali Blues Island (BBI) misalnya, sejak didirikan 1 oktober 2008, komunitas  blues yang didirikan Ace Sulandra, Darwin H Bessie, Bagiastra, Ramadhan H, Paul Arya, Made Surya masih setia memainkan musik blues lewat ‘EGO’ (Easy Going) Band.

Bahkan memasuki usia yang ke-9  BBI bertekad  akan membangkitkan lagi keberadaan music blues di pulau Bali. Seperti disampaikan Willy pentolan sekaligus ketua BBI saat ditemui Bali Tribune, disela-sela syukuran HUTke-9 BBI yang diadakan  restoran Sai Lagu, Denpasar , Minggu (1/10).

“ Bisa dikatakan belakangan ini musik blues mati suri, namun ini bukan berarti   akan lenyap. Sebagai pecinta musik  blues tentunya  BBI pastinya  akan tetap memperhankan music ini. Karena itu, selain temu kangen, momentum HUT ini  kami manfaatkan  untuk berdiskusi  membangkitkan bahkan memajukan lagi musik blues di pulau Bali, salah satunya  menggelar Festival  musik Blues seperti tahun –tahun sebelumnya ,’’ kata Willy.