Bali Tribune, Sabtu 18 November 2017
Diposting : 11 September 2017 19:55
Redaksi - Bali Tribune
pelebon
Keterangan Gambar: 
Iring-iringan pelebon Anak Agung Biyang Chandra Puri Ageng Blahbatuh

BALI TRIBUNE - Belasan ribu orang rela  berdesak-desakan   dan menjadikan Blahbatuh  menjadi  lautan manusia saat mengiringi prosesi  pelebon di  Puri Ageng Blahbatuh, Sabtu (9/9). Kremasi ini menjadi perhatian karena bersaranakan  menara bade dan Lembu Nandini. Iring-iringan prosesi hingga pembakaran jenazah pun menjadi tontonan langka bagi wisatawan asing.

Sejak pagi hari, sarana kremasi  mendiang Anak Agung Biyang Chandra, istri I Gusti Ngurah Jelantik, Puri Ageng Blahbatuh sudah  menjadi magnet warga dan wisatawan. Selain jarang digelar,  sarana kremasinya juga sangat istimewa, yakni menara bade khusus dan lembu nandini  berukuran raksasa.

Setelah dinanti sejak pagi, prosesi pun dimulai sekitar pukul 12.15 Wita.  Sejumlah pejabat negara, daerah dan pelingsir puri di Bali  juga mengikuti jalannya prosesi. Dengan iringan ratusan abdi kerajaan  dari beberapa desa di Kecamatan Blahbatuh, jenazah mendiang ditempatkan menuju  menara bade. Diawali dengan pergerakan patung lembu nandini, iring-iringan  pun bergerak dengan rapi diekori belasan ibu warga.

Lantaran bobotnya  sangat berat, perjalanan pun diusung secara estafet warga dari delapan banjar. Setelah dua  jam perjalanan,  patung lembu dan menara pun tiba di kuburan. Namun sebelum  masuk areal kuburan, atap bade terhalang kabel listrtik hingga terjatuh. Hingga sore hari rangkaian  prosesi berjalan, wisatawan  enggan beranjak. Pembakaran ditandai dengan penyulutan api  dari keluarga besar Puri Ageng Blahbatuh.

Pelingsir Puri Ageng Blahbatuh, Anak Agung Alit Kakarsana menyebutkan, pelebon ini menggunakan tingkatan madyaning utama, sehingga tidak menggunakan Naga Banda.  Almarhum disebutkan meninggal pada usia 84 tahun, meninggalkan  tiga orang anak masing-masing Gusti Agung Jelantik, Dr Gusti  Kesiman, dan Gusti Ayu Sukartini. “Beliau berasal dari Puri Kelodan di Puri Ageng Blahbatuh juga. Dalam upacara ini kami menggunakan sesaji yang disebut penebusan 60,” terangnya.

Selama prosesi, melibatkan delapan banjar pengempon dan beberapa  desa penyangga se-Blahbatuh. Pembakaran bersarana patung lembu nandini ini diharapkan memberi petunjuk arah  arwah  almarhumah  menuju Nirwana sekaligus meninggalkan segala ikatan  duniawi.