Bali Tribune, Rabu 22 November 2017
Diposting : 7 November 2017 20:39
Agung Samudra - Bali Tribune
seni budaya
Keterangan Gambar: 
Salah satu bentuk tari yang merupakan seni budaya yang jadi daya tarik wisatwan.

BALI TRIBUNE - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bangli melakukan inventarisasi seni budaya yang ada di Kabupaten Bangli. Kegiatan ini Disbudpar Bangli menggandengng pihak Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Inventarisasi tahun ini meliputi pemetasan seni rupa yang ada di tiga kecamatan. “Untuk tahun ini kita menginventarisasi seni budaya di tiga kecamatan atau minus kecamatan Kintamani,” ujar  Kabid Kesenian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli, I Nyoman Wiradana, Senin (6/11).

Nyoman Wiradana menjelaskan tujuan kegiatan ini untuk mempermudah dalam pencarian data. Selama ini, belum ada data yang valid tentang seni budaya yang dimiliki Bangli. Selain itu, bila ditemukan seni yang hampir punah, punah maupun berkembang, tentu pemerintah mengambil langkah untuk penanganan. "Pemerintah bisa melaksanakan rekontruksi, sehingga seni bisa dipertahankan. Kemudian untuk yang berkembang, kami rencanakan untuk melakukan kegiatan lomba yang mengangkat tema seni tersebut," terangnya.

Birokrat asal Tabanan ini menjelaskan tahun ini hanya bisa menyasar tiga kecamatan yakni , Susut, Bangli dan  Tembuku. “Karena terbentur anggran kegiatan ini baru menyasar tiga kecamatan dan tahun depan inventarisasi seni budaya  menyasar kecamatan Kintamani.” jelasnya

seraya mengatakan anggaran Rp untuk kegiatan ini sebesar  70 Juta. 

Lanjutnya, digandeng ISI Denpasar karena Pemkab Bangli sudah ada MoU dengan Rektor ISI Denpasar Rektor Isi Denpasar, nomor 12125/IT5.5/DT/2014 dan 415.4/14/PEM/2014. Dijelaskan mekanisme pemetaan, terlebih dahulu tim dari Disparbud Bangli mencari data primer, kemudian data tersebut diserahkan pafa lembaga penelitian, pengabdian masyarakat ISI Denpasar. 

Berdasarkan data tersebut, tim melakukan pengembangan dan pendalaman atas data tersebut. "Baru nanti hasilnya dituangkan dalam bentuk buku. Buku ini kami sebarkan ke desa, maupun instansi pemerintahan. Sehingga masyarakat lebih mudah mencari informasi," kata Nyoman Wiradana.