Diposting : 23 March 2018 00:57
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
ikan tuna
Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Kreatif Penggerak Industri Pariwisata di Bali, dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana (kedua dari kanan), Rabu (21/3).

BALI TRIBUNE - Industri kreatif merupakan salah satu usaha yang bisa dikembangkan untuk membantu pertumbuhan ekonomi di Bali. Hal itu mengacu pada kondisi perekonomian Bali saat triwulan IV tahun 2017 lalu yang dapat dijadikan pelajaran. Mengingat perekonomian Bali hingga saat ini masih tetap bergantung pada pariwisata. Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Causa Iman Karana saat Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Kreatif Penggerak Industri Pariwisata di Bali, Rabu (21/3).

Ketika itu dijelaskannya, ekonomi Bali mengalami gangguan atau kontraksi saat Bandara I Gusti Ngurah Rai ditutup selama 2,5 hari karena dampak abu vulkanik erupsi Gunung Agung. "Ekonomi Bali pada triwulan IV biasanya pada puncak-puncaknya. Tapi saat itu, ada gangguan dari pariwisata jadi drop dibawah 6 persen," sebutnya yang akrab disapa Cik.

Dikatakannya, karena gangguan tersebut ekonomi Bali pada tahun 2017 hanya tumbuh 5,59 persen. Adanya kontraksi pada perekonomian Bali ini perlu diambil suatu pelajaran agar tidak hanya bergantung pada salah satu sektor saja yaitu pariwisata. "Ini akan menjadi bahaya terbukti pada 2017 ekonomi langsung drop (karena bandara ditutup mempengaruhi pariwisata)," cetus Cik.

Berdasarkan hal itu, Bali harus mengembangkan industri lainnya untuk tetap menopang perekonomian ketika sektor pariwisata menghadapi kontraksi dengan mengembangkan industri kreatif. Selain itu, dari hasil kajian Menurut Cik di Bali juga bisa meningkatkan sektor pertanian. Sebab sektor ini tidak mengganggu lingkungan melainkan bisa membantu memelihara lingkungan.

Disamping itu juga berpeluang untuk mengembangkan sektor perikanan, mengingat Bali ini cenderung lebih banyak melakukan ekspor ikan tuna segar. "Perikanan ini potensi yang bisa didorong di Bali," ujarnya.

Lebih lanjut Cik mengatakan terkait usulan industri kreatif yang dapat dikembangkan yakni yang tidak menimbulkan polusi dan masih berhubungan dengan pariwisata. "Industri ini harus mengacu pada peraturan pemerintah," cetusnya.

Dia menegaskan sudah saatnya Bali ini mulai memikirkan pertahanan perekonomian selain dari sisi pariwisata. "Memang tidak bisa jauh-jauh dari pariwisata. Tapi saat pariwisata ada gangguan perekonomian bisa mandiri misalnya dengan industri kreatif," imbuhnya.

Disebutkan, di Bali ada beberapa bidang yang bisa dikembangkan untuk sektor industri kreatif seperti makanan, kerajinan, fashion, arsitektur, grafis, media, visual art, performing art, film dan lainnya. 

Sementara itu Vice President Bank Mandiri Regional XI Bali dan Nusa Tenggara, Hendra Wahyudi mengungkapkan pariwisata yang ada di Bali bisa dikaitkan dengan ekonomi kreatif. Kelebihan pariwisata di Bali ini kata dia karena banyak wisatawan yang datang berulang kali. Sektor pariwisata tersebut sangat mempengaruhi perekonomian di Bali.

Dia menceritakan ketika Bandara Ngurah Rai ditutup pada akhir November 2017 lalu karena erupsi Gunung Agung volume transaksi EDC Bank Mandiri di pulau ini turun drastis hingga 50 persen. Namun setelah bandara dibuka, transaksi berangsur-angsur kembali normal.