Diposting : 29 September 2016 10:01
redaksi - Bali Tribune
BPBD
Keterangan Gambar: 
SIMULASI - BNPB bersama BPBD Bali dan Karangasem, Basarnas, Pemadam Kebakaran, Tagana, menggelar simulasi penanggulangan bencana Erupsi Gunung Agung di Stadion Jalur Sebelas, Amlapura.

Amlapura, Bali Tribune

Setelah meletus pada tahun 1963 lalu, Gunung Agung masih berpotensi erupsi. Ini berdasarkan siklus gunung merapi dimana sebuah gunung merapi yang sudah meletus sebelumnya akan terjadi letusan atau erupsi kembali setelah 40 tahun. Artinya kemungkinan Gunung Agung meletus kembali sangat besar dan itu bisa terjadi kapan saja.

“Kalau itu yang bisa menjelaskan kan Balai Vulkanologi, memang ada siklus seperti itu (setiap 40 tahun,red) tetapi itu kan bukan exact tetapi bisa saja seperti itu namun siklusnya tidak mesti setiap 40 tahun bisa saja lebih!” ujar Kepala BPBD Bali Dewa Made Indra, kepada wartawan Rabu (28/9) kemarin, menanggapi kemungkinan meletusnya kembali Gunung Agung.

Terlepas dari siklus 40 tahunan tersebut, Gunung Agung bisa meletus kapan saja karena tergolong gunung merapi yang masih aktif. Untuk mengantisipasi terjadinya letusan Gunung Agung itu, BNPB bersama BPBD Bali dan Karangasem, Basarnas, Pemadam Kebakaran, Tagana, dan sejumlah unsur Rescue lainnya secara khusus menggelar simulasi penanggulangan bencana Erupsi Gunung Agung di Stadion Jalur Sebelas, Amlapura, selama  hampir empat hari.

“Simulasi penanggulangan bencana erupsi Gunung Agung memang dalam kaitan itu! kita antisipasi sejak awal jadi saat bencana itu terjadi personil sudah siap!” sebutnya, sembari menyebutkan simulasi akan dilakukan dengan melibatkan Heli SAR Basarnas pada 30 September mendatang.

Sementara mengenai kemungkinan dampak abu vulkanik Gunung Barujari, Lombok Utara yang meletus beberapa hari lalu, Dewa Made Indra mengaku pihaknya sudah menyiapkan ribuan masker dan siap di drop ke Karangasem jika nantinya terdapat dampak abu vulkanik Barujari sampai ke Bali, dalam hal ini Karangasem. “Antisipasi sudah kita siapkan masker dan kemarin sudah kita drop 800 kotak masker yang siap dibagikan ke Masyarakat yang terdampak abu vulkanik,” lontarnya.

Dipihak lain, Kepala BMKG wilayah III Denpasar, I Wayan Suardana, kepada wartawan kemarin menjelaskan, sampai saat ini pihaknya masih terus memantau pergerakan abu vulkanik dariletusan Gunung Barujari. “Memang dari citra satelit terpantau abu vulkanik mengarah kebarat daya! Tapi sejauh ini itu belum mempengaruhi aktifitas masyarakat,” kata Suaradana. Termasuk kata dia dampak abu vulkanik itu juga belum mempengaruhi aktifitas penerbangan baik di Bandara Internasional Lombok (BIL) maupun Bandara Ngurah Rai, Bali.


“Penerbangan tetap berjalan normal sesuai dengan jadwal, tapi kami masih terus memantau pergerakan abu vulkanik tersebut,” lugasnya.