Diposting : 4 July 2016 10:00
habit - Bali Tribune
Penalti
Keterangan Gambar: 
Gianluigi Buffon

Bordeaux,

Kapten Timnas Italia, Gianluigi Buffon, tak kuasa menahan tangis usai timnya dikalahkan Jerman di babak perempatfinal Piala Eropa 2016, Minggu (3/7) dini hari. Bahkan tak hanya setelah pertandingan, Superman – julukan Buffon – juga menangis ketika diwawancara ekslusif oleh media asal Italia yakni Rai Sport.

Sejatinya tak heran Buffon menitikkan air mata. Gli Azzurri – julukan Italia – bermain luar biasa untuk mengimbangi Jerman, meski secara kualitas pemain kalah dari tim asuhan Joachim Low tersebut. Mantan suami Alena Saredova itu juga bermain apik sepanjang pertandingan dengan melakukan tiga penyelamatan, termasuk tembakan jarak dekat yang dilakukan Mario Gomez.

Sementara di adu tendangan penalti, Buffon juga sukses menahan sepakan Thomas Muller. Selain itu ada satu hal lagi yang membuat Buffon gagal membendung sang air mata. Piala Eropa 2016 merupakan kiprah terakhir Buffon tampil di turnamen antarnegara Eropa tersebut, mengingat ia akan pensiun dua tahun mendatang.

 Hal itu otomatis membuat Buffon tak pernah membawa Italia menjadi kampiun Piala Eropa. “Kami melakukan apa yang paling bisa kami lakukan dan itu hampir cukup. Hal itu berarti bahwa, ketika Anda memiliki nilai-nilai, organisasi dan taktik mana Anda dapat mengatasi segala sesuatu yang tidak mungkin,” jelas Buffon sambil menangis.

 

Penalti Terburuk

Legenda sepakbola asal Prancis yang kini menjadi pandit di BBC, Thierry Henry, mengkritik beberapa tendangan yang dilepaskan pemain Italia saat melakoni duel adu penalti kontra Jerman di babak perempatfinal Eropa 2016. King Henry –julukan Henry– bahkan menyebut, beberapa tembakan penalti yang dilepaskan pemain Italia merupakan yang terburuk dalam sejarah sepakbola.

Dalam laga kontra Jerman, ada sembilan eksekutor Italia yang mengambil kesempatan dalam adu tos-tosan tersebut. Namun, tidak semua eksekutor berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Ada empat pemain Italia yang gagal menjaringkan si kulit bulat, mereka ialah Simone Zaza, Graziano Pelle, Leonardo Bonucci dan Matteo Darmian.

Yang menjadi perhatian Henry ialah tembakan serta gaya yang dilepaskan Darmian, Pelle dan Zaza. Zaza dinilai terlalu banyak gaya sebelum melepaskan tembakan dan sepakannya melesat tinggi di atas mistar gawang. Pelle terkesan memberi provokasi dengan mengeluarkan kata-kata kepada kiper Jerman yakni Manuel Neuer, namun tembakannya masih melenceng.

Sementara Darmian melepas tembakan yang dapat dengan mudah diamankan Neuer. “Saya akan selalu ingat dengan kegagalan penalti yang dibuat Darmian. Namun, jika saya orang Italia, saya mengingat gaya lari yang dibuat Zaza sebelum melepaskan tembakan serta isyarat Pelle yang ditujukan kepada Neuer. Saya baru saja melihat beberapa penalti terburuk dalam sejarah,” jelas Henry dilansir Daily Mail.