Diposting : 15 May 2017 19:40
redaksi - Bali Tribune
PELANTIKAN
Keterangan Gambar: 
LANTIK - Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata saat melantik dua pejabat UPTD Kebun Raya Pilan

BALI TRIBUNE - Memastikan kebun raya di Banjar Pilan, Desa Kerta Payangan, terwujud sesuai dengan harapan,   dua pejabat administrasi diangkat secara resmi oleh Bupati Gianyar Anak Agung Bharata di ruang Bupati Gianyar, Jumat (12/5). Kedua pejabat tersebut yaitu I Made Raka, sebelumnya menjabat sekretaris lurah Ubud diangkat sebagai Kepala Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Kebun Raya Kabupaten Gianyar dan Ida Bagus Putu Tirtayasa sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Kabupaten Gianyar.

Bupati mengimbau kedua aparatur negara tersebut agar bekerja cepat dalam menggarap kebun raya Desa Pilan, yang saat ini progresnya rampung masih sekitar 10 are dari total luas wilayah 9 hektar. Tentunya, membutuhkan waktu jangka panjang untuk menjamah secara bertahap keseluruhan wilayah kebun raya tersebut.

”Kita kejar agar bisa soft opening pada tanggal 7 juni 2017 nanti. Saya percaya, dengan pendampingan dari LIPI, maka proses akan berjalan lebih cepat. Yang terpenting, bagaimana pejabat yang dilantik, dapat menjaga dengan betul eksistensi dari kebun raya itu nantinya. Istilahnya, kalian harus belajar bergaul dengan alam yang ada. Jaga betul keperawanan dari kebun raya itu, supaya tidak sampai beralih fungsi lahan. Sesuai dengan visi kita menjaga warisan pusaka Kabupaten Gianyar,” ujar  Bupati Bharata.

Usai dilantik, Kepala UPTD Kebun Raya Kabupaten Gianyar I Made Raka, didampingi Kasubag Ida Bagus Putu Tirtayasa menyatakan komitmennya dalam meneruskan amanah dari Bupati Gianyar. Program utama yang akan diprioritaskan adalah mengidentifikasi tanaman tematik, yakni tanaman yang dapat memenuhi keperluan upakara orang Bali dari mulai lahir hingga meninggal. ”Imbauan Bapak Bupati agar dikebut pembentukan taman tematik,” kata Raka.

Disinggung mengenai estimasi rampungnya lahan secara keseluruhan, Raka memperkirakan butuh waktu yang sangat panjang berpuluh tahun lamanya. Paling tidak, dibutuhkan waktu kurang lebih 5 hingga 10 tahun per hektarnya. ”Banyak lahan yang belum terjamah, saat ini kami sedang fokus garap yang 10 are tersebut,” tegas dia.