Diposting : 18 November 2017 11:13
Djoko Purnomo - Bali Tribune
NasDem
A A N Gede Widiada

BALI TRIBUNE - Rabu (15/11) hingga Kamis (16/11), Partai NasDem melangsungkan rapat kerja nasional (Rakernas) sekaligus merayakan hari jadinya ke-6 di Jakarta. Catatan kecil dari perjalanan mengikuti Rakernas, diungkapkan salah satu kader militan Partai NasDem dari Bali yakni  Anak Agung Ngurah Gede Widiada. Berikut kesan-kesannya dalam 2 tulisan.

Dalam rapat tersebut Widiada mengungkapkan, hajatan politik dari partai yang didirikan Surya Paloh tersebut diikuti belasan ribu kader dan peserta dari seluruh Tanah Air. “Sungguh sebuah hajatan politik akbar dari sebuah partai politik yang baru berusia 6 tahun. Rapat sekaligus hari jadi yang dikemas dalam sebuah pertemuan penuh kekeluargaan antar kader dari berbagai daerah dan wilayah itu berlangsung lancar dan sukses. Sungguh mengesankan,” ungkapnya sepulang dari Rakernas, Jumat (17/11).

Dikatakan, Rakernas yang digalang oleh Partai NasDem ini melibatkan struktur partai sampai tingkat kecamatan dari seluruh Indonesia. "Ini cermin militansi dalam membangun komitmen pluralitas dengan kehadiran kader dari Sabang sampai Merauke. Bendera Merah putih dan Bendera Partai NasDem berkibar dan melambai harmonis. Ini sekaligus menjadi atmosfir politik sejuk yang memang kita perjuangkan,” tambah WK DPW Partai NasDem Bali ini.

Agung Widiada juga sangat mengapresiasi kehadiran Presiden Jokowi beserta jajaran kabinetnya. “Suasana batin saya begitu gembira melihat banyak tokoh-tokoh partai politik yang juga hadir. Bangga dan semangat,” urai tokoh Puri Peguyangan Denpasar ini.

Spirit yang digemakan oleh pendiri Partai NasDem Surya Paloh saat memberikan sambutannya pada Rakernas, dinilai Agung Widiada ibarat energi baru yang menyemangati seluruh kader partai yang hadir saat itu. Tak terlihat rasa lelah apalagi jenuh. Semuanya bersemangat.

“Tak sedikit teriakan histeris menyerukan nama Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku, yang membuat ruangan rapat menjadi gegap gempita namun tetap khidmat. Saya berpikir teriakan ini sanggup melapangkan dada yang ‘enek’ dengan potret prilaku elit politik yang seakan seenaknya dalam berpolitik. Teriakan itu juga mampu menghempaskan rasa kecewa atas ketidakjujuran dan kepura-puraan yang terjadi,” kata Widiada.