Bali Tribune, Jumat 20 April 2018
Diposting : 13 January 2018 19:55
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
transpotasi
Keterangan Gambar: 
Sarana kapal boat transpotasi Wisman selama ini menuju Nusa Penida.

BALI TRIBUNE - Cuaca ekstrim hujan disertai angin kencang yang terjadi di Bali sejak Desember 2017 membawa kekhawatiran bagi sektor pariwisata khususnya wisata tirta/air. Ketua Gabungan Usaha Wisata Tirta (Gahawisri) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana saat dikonfirmasi Jumat (12/1) mengatakan jika hujan deras dan angin kencang akan memicu naiknya gelombang laut. 

Pasalnya sebagian besar wisatawan yang berlibur di Bali gemar melakukan kegiatan wisata air di laut seperti menyelam, banana boat, snorkling, marine walk dan lainnya. Saat ini kata dia cuaca mempengaruhi wisatawan yang akan melakukan kegiatan wisata air di Nusa Lembongan dan Nusa Penida. Ketika gelombang laut pasang wisatawan pun takut dan khawatir menyebrang dari Denpasar menuju dua pulau yang berada di Kabupaten Klungkung tersebut.

Nusa Lembongan dan Nusa Penida adalah destinasi wisata air favorit bagi wisatawan. Di perairan itu turis asing maupun domestik biasanya melakukan aktivitas menyelam karena keindahan kehidupan biota lautnya yang kaya dengan beraneka ragam terumbu karang dan ikan warna-warni.

Selain melihat dan mengamati keindahan bawah laut, ketika menyelam,  juga bisa memberi makan ikan yang berenang-renang di sekitar wisatawan. "Memang jika angin kencang wisatawan terkendala untuk penyebrangan ke Nusa Penida dan Lembongan," terang pria yang akrab disapa Gus Agung ini.

Kondisi tersebut dikatakannya mulai terasa sejak Desember 2017, karena gelombang besar air laut yang kadang terjadi saat jadwal penyebrangan mengharuskan perjalanan ke Nusa Penida dan Lembongan harus lebih hati-hati. Disebutkan Gus Agung hingga awal tahun 2018 ini sebagian besar wisatawan yang meramaikan aktivitas wisata tirta di Bali yaitu domestik sedangkan turis asing diantaranya berasal dari India, Singapore, Australia, negara-negara Eropa, Jepang dan Amerika.

Sementara itu Director of Sales&Marketing Island Lembongan Adventure, Agung Eka mengakui jika cuaca ekstrim besar pengaruhnya terhadap penyebrangan ke destinasi wisata tirta di Lembongan. "Sementara cuaca mulai ekstrim (hujan deras dan angin kencang) berpengaruh tetapi masih bisa berlayar dan kalau cuaca memburuk pasti ada instruksi dari pihak Syahbandar untuk larangan berlayar," ungkap Agung Eka.

Meskipun hingga saat ini faktor cuaca belum mengakibatkan pembatalan penyebrangan ke destinasi itu. Namun wisatawan karena khawatir akan keselamatan, ada yang memilih pembatalan maupun menunda jadwal keberangkatan menunggu kondisi aman. "Kalau pembatalan sih enggak, kecuali angin kencang dan hujan deras paling dari pihak tamu sendiri yang membatalkan tur untuk pindah hari lain atau instruksi Syahbandar," bebernya.

Dia mengatakan akhir-akhir ini wisatawan yang berwisata air atau marine walk di Lembongan didominasi Australia dan Jepang. Sedangkan turis Tiongkok kata Agung Eka mengalami penurunan yang sangat signifikan.