Diposting : 23 March 2018 00:46
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
Badai Mercus
Keterangan Gambar: 
RUSAK - Banyak perahu nelayan di pesisir selatan Jembrana rusak diterjang gelombang akibat dampak Badai Mercus.

BALI TRIBUNE - Aktifitas nelayan tradisional di pesisir selatan Jembrana kini terganggu adanya angin kencang yang terjadi selama dua hari sejak Selasa (20/3) hingga Rabu (21/3). Selain takut melaut serta ikan hasil tangkapan minim akibat cuaca buruk, dampak kerusakan juga dirasakan oleh warga nelayan di beberapa wilayah yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Seperti yang dialami warga Desa Cupel, Negara. Sejumlah alat tangkap berupa perahu fiber dan mesin tempel milik warga hancur setelah diterjang gelombang tinggi. Akibat angin kencang yang disertai gelombang tinggi tersebut, kini sebagian besar nelayan memilih tidak melaut. Di wilayah Desa Cupel hingga Rabu kemarin sudah empat unit perahu fiber serta mesin tempel milik nelayan setempat yang terbelah dan hancur tersapu gelombang air laut yang tinggi. Salah satu lokasi yang terjadi kerusakan terparah yakni di Dusun Kembang, selain kerusakan dialami olehj warga nelayan di Dusun Rening.

Kepala Dusun Kembang Abdul Hamid dikonfirmasi Rabu malam mengatakan tiga perahu milik warganya kini kondisinya sudah hancur akibat dihantam gelombang yang mengganas tersebut. Menurutnya tiga perahu fiber yang terakhir hancur tersebut diperkirakan dihantam ombak tinggi pada Selasa (20/3) malam, pukul 00.00 Wita. Saat sedang ditambatkan di bibir Pantai Cupel. “Perahu itu ditambatkan, karena dihantam ombak. Hancur sampai ada yang terbelah tiga bagian. Dua (perahu) lainnya mesinnya juga rusak,” jelasnya.

Diakuinya, ketiga perahu yang hancur akibat gelombang tinggi itu  memang digunakan untuk melaut oleh warganya, di antaranya milik Yatno, Muh Yani dan Kahpi. Atas kejadian ini pihaknya sudah melaporkan ke Kepala Desa Cupel. Cuaca buruk angin kencang diserta gelombang tinggi ini juga berdampak pada aktifitas dan mata pencaharian para nelayan. Sebagian besar nelayan kini sudah tidak berani pergi melaut. 

Begitupula yang terjadi di pesisir Desa Pengambengan, Negara, Rabu sore kemarin. Para nelayan setempat memilih untuk tidak melaut sejak beberapa hari ini karena kondisi cuaca khususnya angin kencang dan gelombang tinggi. Ratusan perahu nelayan, baik sampan maupun selerek (purse seine), tampak berjejer di sepanjang senderan yang mengelilingi kolam Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan.

Sejumlah nelayan yang ditemui Bali Tribune mengaku belakangan ini angin sangat kencang tidak hanya di laut atau di pantai, namun kencangnya hembusan angin juga dirasakan hingga di jauh darat. Apik, salah sorang nelayan Pengambengan mengakui kini nelayan enggan untuk melaut karena pertimbangan faktor hasil tangkapan dan cuaca serta keselamatan di tengah laut. “Kalau angin begini biasanya juga disertai gelombang tinggi, khawatirnya perahu terbalik di tengah,” ungkap nelayan tradisional ini. 

Sementara itu, dari prakiraan Stasiun Klimatologi BMKG Negara menyebutkan, angin kencang yang terjadi di wilayah Selatan Bali ini merupakan dampak dari Badai Marcus. Badai ini dapat menimbulkan gelombang tinggi di perairan selatan Jawa-Bali-NTB. 

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Kelas II A Negara, Rakhmat Prasetia dikonfirmasi Rabu petang mengatakan, prakiraan cuaca kemarin arah angin di wilayah perairan Selat Bali bagian Selatan berhembus dari Barat Laut menuju arah Utara dengan kecepatan yang tinggi hingga 4-10 knot. Begitu juga gelombang mencapai ketinggian hingga 0.5 hingga 3.0 meter. Sedangkan arah angin di Samudera Hindia di Selatan Bali, berhembus dari arah Barat Laut menuju arah Utara dengan kecepatan angin 6-20 knot dan tinggi gelombang 1.0 hingga 4.0 meter.

Pihaknya meminta masyarakat, khususnya warga pesisir dan nelayan, agar mewaspadai adanya angin kencang dan gelombang tinggi di perairan wilayah selatan Bali.