Diposting : 22 November 2017 19:05
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
arsitektur
Keterangan Gambar: 
KECEWA - Kalangan Legislatif mengaku kecewa terhadap pembangunan stage GKBK Jembrana yang dinilai tidak mencirikan arsitektur Bali.

BALI TRIBUNE - Pembangunan stage Gedung Kesenian Dr Ir Sokarno Jembrana atau GKBK yang sedang berjalan sejak beberapa bulan, menjadi sorotan kalangan legislatif. Dewan menilai desain bangunan stage pementasan tersebut tidak bercirikan adat budaya Bali. Dewan merasa keberatan dan sangat kecewa.

Ketua DPRD Kabupaten Jembrana I Ketut Sugiasa saat sidak proyek bernilai Rp 2 Miliar lebih tersebut mengatakan, dari desain gambar dan proses pembangunan yang sudah berjalan 50 persen itu pihaknya merasa keberatan karena bangunan sama sekali tidak mencerminkan asistektur Bali.

Sugiasa yang didampingi anggota DPRD Kabupaten Jembrana I Wayan Suardika dan Komang Adiyasa mengaku kecewa dengan pembangunan stage yang angarannya bersumber dari APBD Kabupaten Jembrana itu. "Sama sekali tidak ada nuansa/arsitektur Balinya. Jadi kalau nanti berada di sini kelihatan bukan di Jembrana. Ini memang seni dan konsepnya minimalis, tapi di mananya ada stil Bali?" papar politisi asal Lingkungan Pemedilan, Keluarahan Dauhwaru ini.

Ditegaskannya, pihaknya sebagai Dewan tidak ingin menghambat pembangunan, namun menurutnya bangunan tersebut terkesan gaya minimalis seperti itu dipaksanakan dan sama sekali tidak ada mencerminkan nuansa Bali-nya. Ia mengaku sejak awal pihaknya selaku Ketua DPRD Jembrana yang pertama protes terhadap bentuk gedung lama karena sejak awal tidak bernuansa Bali sehingga dibangunlah gedung baru ini. “Saya setuju dibangun gedung ini. Tapi saya tidak cocok dengan stil yang dipakai. Saya tidak mengerti ini stil mana,” ujar politisi PDI P ini.

Pihaknya berharap pembangunan stage gedung kesenian ini memakai stil Bali sehingga setiap orang yang datang akan merasa berada di Bali karena ada stil Balinya. Menurutnya stil Bali itu sudah terpatri oleh masyarakat Bali dan merupakan roh setiap bangunan yang ada dan akan dibangun di Bali. Begitupula pihaknya mengusulkan antara stage dan gedung bangunannya menyatu untuk memperluas areal depan namun justru realisasinya ada selasar dibagian belakang. 

Begitupula dengan patung Singa di gerbang pintu masuk stage diminta agar dibongkar karena dinilai tidak sesuai dengan cirri khas dan nuansa seni di Jembrana. Pihaknya menginginkan patung Singa bersayap itu diganti. "Di sini tempat berkesenian dan tempat bermain, kita harus memperlihatkan budaya dan seni kita. Budaya kita apa, ya Mekepung, kendang mebarung sebaiknya itu yang dibangun," ungkapnya. 

Dikatakannya, apabila ingin mempromosikan Jembrana  semestinya yang dibangun ditempat-tempat strategis adalah arsitektur yang memang terkait dengan budaya Jembrana sehingga Jembrana tidak semakin ketimur justru budaya Bali memudar. Pihaknya mengaku kecewa sebab pihak eksekutif hanya mengajukan anggaran pembangunannya saja, setelah disetujui karena memang menjadi tujuan bersama justru tidak menyampaiakan dan mensosilaisasikan gambar desainnya.

Kondisi ini baru ditahuinya saat pihaknya melaksanakan sidak setelah pengerjaan berlangsung. Bahkan gambar bangunan dikatakannya baru dipasang setelah proyek berlangsung. “Saya baru tahu gambarnya seperti ini setelah pemasangan kap dan sudah saya sampaikan usulan saya ke Bapeda dan PU tapi tidak dada tindaklanjutnya dan pengerjaannya terus berlangsung,” paparnya.

Sejak proyek berlangsung bulan Juli lalu pihaknya sudah memanggil pihak PU namun sampai saat ini tidak belum ada yang dating. “Pemerintah hendaknya memberikan contoh dengan menampilakn ciri khas Bali, jangan hanya menampilkan kemewahan namun harus mengutamakan tatanan budaya,” jelas Sugiasa.

Pihaknya mempersilakan pihak-pihak yang keberatan atas sorotan dewan ini agar mendatanginya langsung untuk bisa memberikan argumen langsung kepadanya.