Bali Tribune, Selasa 23 Januari 2018
Diposting : 6 January 2018 10:34
Redaksi - Bali Tribune
Pasar Badung
Keterangan Gambar: 
KECEWA - Jajaran Komisi III DPRD Kota Denpasar nampak kecewa melihat kondisi hasil proyek pembangunan Pasar Badung tahap pertama masih amburadul.

BALI TRIBUNE - Jajaran Komisi III DPRD Kota Denpasar melakukan inspeksi mendadak (sidak) pembangunan Pasar Badung tahap I, Jumat (5/1). Sidak dilakukan untuk melihat hasil pembangunan tahap pertama pasar terbesar di Bali ini.

Pantauan wartawan, rombongan  dewan yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Denpasar, I Wayan Mariyana Wandhira, dan Ketua Komisi III, Eko Supriadi tiba di lokasi proyek pembangunan Pasar Badung sekitar pukul 11.00 Wita. Sampai di lokasi, rombongan wakil rakyat Denpasar ini langsung meninjau hasil proyek pembangunan yang digarap PT Nindya Karya ini.

Setelah meninjau keseluruhan proyek, ternyata jajaran anggota dewan nampak kecewa lantaran hasil pengerjaan tahap pertama dinilai amburadul sehingga banyak yang harus mendapatkan perbaikan.

"Jujur saja kami kecewa dan prihatin, karena setelah kami amati hasil pengerjaannya amburadul.  Ini bangunan untuk publik dan menghabiskan dana yang tidak sedikit, tapi hasilnya seperti ini. Banyak yang bolong, ada konstruksi miring, ada yang retak, pokoknya banyak yang harus diperbaiki," ujar Ketua Komisi III DPRD Denpasar, Eko Supriadi, di sela-sela sidak.

Menurut Eko, jika melihat tender, semestinya pembangunan Pasar Badung tahap pertama ini sudah selesai 100 persen pada 22 Desember 2017. Namun informasinya, sudah ada serah terima pada tanggal 21 Desember 2017. Kalu sudah ada serah terima, artinya sejak tanggal tersebut semestinya pembangunan sudah 100 persen final. Tetapi faktanya, menurut pengamatannya pada Kamis (4/1) lalu, ternyata masih ada pengerjaan.

"Kalau sudah serah terima artinya pembangunan sudah final. Tapi faktanya masih banyak yang bekerja. Ini artinya kan rekanan bekerja di luar waktu yang ditentukan. Disini tidak ada transparansi. Baru kami sidak, baru tidak ada pekerja. Padahal kemarinnya masih banyak pekerja. Kalau pengerjaannya belum final pada tanggal yang ditentukan sesuai tender, seharusnya kena penalty. Ini kok tidak?," tegas politisi PDIP ini.

Wakil Ketua DPRD Denpasar, Wayan Mariyana Wandhira yang memimpin rombongan juga menyampaikan kritik serupa. Menurut Wandhira, hasil pengerjaan proyek tahap pertama Pasar Badung masih banyak yang harus diperbaiki. Secara khusus, Ketua DPD II Partai Golkar Denpasar ini mengritik pemasangan beton-beton yang tidak mulus sehingga diragukan kekuatannya.

"Ini hampir di setiap kolom sambungan betonnya tidak mulus. Banyak yang bolong-bolong. Sepertinya ini juga ada perubahan dari gambar awal, yang seharusnya konvensional tetapi ada pemasangan beton precast. Kalau berbeda mutunya, kita ragukan kekuatan betonnya apakah masih 100 persen? Bangunan ini akan melibatkan publik, jadi mobilitas orang yang menggunakan gedung ini bisa 1.000 orang lebih. Untuk itu segala sesuatunya harus semaksimal mungkin," ujarnya.

Hal senada disampaikan Anggota Komisi III, A.A Susrutha Ngurah Putra. Politisi yang juga Ketua Fraksi Demokrat DPRD Denpasar ini melihat banyak ada rongga plat yang pecah dan retak. Rongga ini dikunci dengan plat tipis.

Menurutnya, hal ini akan mengurangi kekuatan dari beton itu sendiri. "Ini kan banyak rongganya, dan hanya dikunci dengan plat tipis. Kalau ada getaran pasti  pecah, kalau begitu siapa nanti yang bertanggung jawab?," kata Susrutha setengah bertanya.

Menanggapi kritikan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)   Denpasar, I Wayan Gatra, mengaku, pengerjaan Pasar Badung tahap pertama secara volume strukturnya sudah selesai 100 persen. Namun demikian, diakuinya memang hasilnya tidak sempurna. Terkait dengan sejumlah pengerjaan yang tidak sempurna, pihaknya mengaku akan meminta rekanan untuk segera melakukan perbaikan.

"Memang dalam pekerjaan apapun tidak mungkin sempurna sekali. Untuk tahap pertama ini secara volume sudah selesai 100 persen. Nanti kalau ada yang retak atau ada yang kurang apa, itu lah yang akan kami perbaiki dalam masa pemeliharaan," ujarnya.

Hal senada disampaikan Kontraktor Pelaksana Nindya Karya, Yoyok Roesno. Menurutnya, proyek Pasar Badung tahap pertama , secara volume pengerjaan sudah selsai. Pihaknya menjelaskan, dalam konstruksi itu ada namanya defect (cacat) dan defesiensi (penyimpanngan).  Itu artinya ada pengerjaan yang kurang sempurna.

 "Pengerjaan yang defect dan defesiensi, seperti retak-retak atau kategori cacat akan kita perbaiki. Ada yang miring, retak, atau kurang sempurna itu tanggung jawab kami, itu akan kami perbaiki. Masalah kekuatan nanti kita akan terbuka, jika ada keraguan, kita sanggup untuk diuji. Kita akan panggil pihak independen untuk menguji mutu beton," ujarnya.

Apakah proyek ini benar-benar selesai 100 persen?, ditanya begitu, pihaknya mengaku sudah 100 persen. Tetapi memang belum sempurna. "Secara fisik dan volume sudah. Tetapi memang ada yang belum sempurna. Ada yang sudah dikerjakan tetapi rusak lagi. Nah itu yang akan kami perbaiki selama masa pemeliharaan," ujarnya.

Terkait perubahan pemasangan beton dari beton konvensional ke beton precast (pracetak), pihaknya mengakui hal tersebut bukan kewenangannya. Pihaknya mengaku memang sudah awal DED yang diterima sudah precast.

"Kita terima tender dalam keadaan sudah precast. Kalau ada perubahan dari konvensional ke precast itu kami tidak tahu sejarahnya. Itu mungkin bisa ditanyakan ke perencana. Kita terima dokumen sudah precast. Kami laksanakan sudah sesuai dokumen tender," tandasnya.