Diposting : 26 December 2017 18:14
Redaksi - Bali Tribune
erupsi
Keterangan Gambar: 
Seekor kera ditemukan mati di pelataran Pura Pasar Agung.

BALI TRIBUNE - Hujan abu dan hembusan gas belerang dari kawah Gunung Agung, membuat sebagian besar hutan di lereng gunung setinggi 3.142 mdpl itu meranggas. Tidak hanya itu, hewan yang biasanya hidup di lereng gunung juga sudah mulai turun hingga ke perkampungan warga, yang juga ditinggal penghuninya mengungsi.

Suasanya menyedihkan itu salah satunya terlihat di areal lereng Gunung Agung di Pura Pasar Agung. Untuk menyusuri parahnya kerusakan hutan dan habitat yang hidup di dalamnya, koran ini bersama sejumlah relawan Senin (25/12), naik ke bagian lereng Gunung Agung di atas Pura Pasar Agung, yang berjarak hanya sekitar 1 kilometer dari puncak atau kawah Gunung Agung.

Di sepanjang jalan menuju Pura Pasar Agung, suasana yang cukup membuat badan merinding terlihat, di mana kabel listrik PLN melintang di aspal. Tidak hanya itu, koran ini bersama relawan juga harus meningkatkan kewaspadaan dan mengontrol laju kendaraan karena batang-batang pohon tumbang berukuran besar berserakan dan melintang di tengah jalan. Di samping banyaknya pohon tumbang melintang di jalan, jalan juga cukup licin karena abu vulkanik setebal hampir 4 centimeter menutupi jalan hingga ke bagian areal parkir Pura Pasar Agung yang merupakan pos pendakian ke puncak.

Dari areal parkir Pura Pasar Agung, suasana memilukan terlihat, dimana hampir seluruh pohon di lereng atas hingga ke puncak gunung meranggas dan berwarna putih keabuan tertutup abu vulkanik. Melupakan pemandangan yang memilukan itu, koran ini bersama relawan dengan membawa berbagai jenis buah untuk makanan kera, naik menyusuri ratusan anak tangga, yang bagian plesteran semennya nyaris tak terlihat oleh tebalnya tumpukan abu vulkanik hingga berhasil tiba di jaba Pura Pasar Agung.

Bau belerang menyengat menyambut karena pas saat Koran ini tiba di atas sekitar pukul 14.15 Wita, tengah terjadi erupsi di kawah Gunung Agung, di mana hembusan asap dan kolom abu vulkanik terlihat jelas mengepul ke udara.

Menapaki tangga menuju ke jeroan pura, di sisi kiri anak tangga sebelah candi tampak bangkai seekor kera jantan, di mana bagian badannya terkoyak dan belum tercium bau bangkai.

“Kemungkinan ini baru mati, karena belum tercium bau bangkai. Kalau dilihat badannya terkoyak dan dagingnya ada yang hilang, kemungkinan dimakan oleh temannya sendiri karena kelaparan,” ucap Ketut Bawa, salah satu relawan yang juga Perbekel Peringsari. Kemungkinan lain kawanan kera yang mati tersebut akibat kelaparan lantaran rusaknya areal vegetasi di lereng atas Gunung Agung akibat hembusan belerang dan hujan abu lebat.

Koran ini dan relawan kemudian menuju ke sisi timur pura atau di sisi jurang sedalam 150 meter, yang merupakan tempat berkumpulnya kawanan kera yang turun gunung. Hanya ada dua hingga empat kera saja yang terlihat, satu ekor kera bulunya terlihat rontok dan begitu kelaparan. Begitu relawan melemparkan buah, empat ekor kera itu langsung memburunya dan saling serang satu sama lain untuk mendapatkan buah yang dilempar tersebut.

Buah yang dibawa relawan dalam sekejap habis oleh kawanan kera yang kelaparan, sementara kera dalam hitungan menit langsung tidak terlihat lagi di areal pura. Di jeroan pura, koran ini juga menemui seorang warga negara asing asal Belgia yang kemudian berkenalan dan menyebutkan namanya Daniel Moyano.

Dalam percakapan, Daniel mengaku sudah dua kali ke Pura Pasar Agung untuk mengamati setiap detik perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Agung, kendati jarak pemantauan cukup berisiko jika terjadi erupsi besar.

Dari pantauan koran ini, hampir sebagian besar atap dan bangunan pelinggih di Pura Pasar Agung ini tertutup abu vulkanik.Turun dari Pura Pasar Agung, koran ini sempat mampir ke lokasi Embung Geomembran di Desa Sogra. Memang embung senilai miliaran rupiah ini airnya penuh hanya saja warnanya kuning kecokelatan seperti air belerang.