Bali Tribune, Sabtu 23 Juni 2018
Diposting : 28 August 2017 18:00
Arief Wibisono - Bali Tribune
Cok Istri Agung Wahyu Trisna
Keterangan Gambar: 
Cok Istri Agung Wahyu Trisna

BALI TRIBUNE - Menapaki 13 tahun perjalanan usaha cargo (Logistik) bukanlah hal singkat, berbagai rintangan dan tantangan tentu kerap dihadapi. Namun demikian untuk menyiasati hal tersebut dibutuhkan transformasi dan sinergitas dalam meraup pasar yang lebih luas lagi baik pasar domestik ataupun luar negeri.

“Pasang surut telah kami alami selama 13 tahun perjalanan usaha logistik, baik yang datangnya dari eksternal ataupun internal,” ujar Direktur Naval Cargo, Cok Istri Agung Wahyu Trisna yang dijumpai saat merayakan HUT ke-13 Naval Cargo yang berlokasi di Jalan Raya Celuk gang Nyuh Gading no.2, Sukawati, Gianyar, Sabtu (26/8).

Disebutkan kalau tantang internal bisa segera diatasi, namun tantangan eksternal yaitu kerap adanya benturan dengan kebijakan pemerintah yang terkadang membingungkan para pengusaha logistik. “Namun demikian kita tidaklah berdiam diri, tapi berinisiatif membentuk yang namanya “Suplai Chain Logistik” lantas bersinergi dengan beberapa komponen logistik yang ada, salah satunya yaitu dengan menggandeng PT. Pos Indonesia,” kata wanita cerdas ini.

Menurutnya, penting dilakukan membentuk suplai chain logistik yang akan membawa pada pangsa pasar yang lebih luas. Tentu sebagai salah satu anggota dari ALFI (Asosiasi Logistic and Forwarder Indonesia) pihaknya tidak hanya berdiam diri. “Kita coba menyerap apa yang menjadi kebutuhan masyarakat akan logistik, ini yang kita coba bagi dengan para mitra. Inilah perlunya kita bersinergi yang merupakan bagian dari transformasi ke arah yang lebih baik,” tukasnya.

Dengan mengusung tag line “One Stop Palace for Channel Logistik” tentu bukan hal mudah. Upaya menuju arah sana telah dilakukan Naval Cargo dengan menyiapkan armada yang mumpuni, pergudangan, pengepakan, dan jasa pengiriman. “Sebenarnya ini jawaban bagi kita yang ada di Bali yang tidak terlepas dari dunia pariwisata. Dan komponen yang mendukung juga banyak seperti hotel, perbankan, UKM, industri, bahkan sampai pada personal,” jelas Cok Na lagi.

Bahkan dengan banyak orang asing yang tinggal di Bali, jasa penyewaan gudang dan moving menurutnya sangat diminati. “Ketika para ekspatriat ingin pindah dari satu daerah ke daerah yang lain tentu mereka butuh logistik yang bisa menangani, juga ketika mereka perlu gudang untuk menampung sementara barang-barang mereka juga butuh pergudangan, jadi inilah potensi yang bisa diraup,” imbuhnya.

Apa yang disampaikan Cok Na bukan tanpa sebab, di tengah lesunya pasar ekspor tentu menggarap pasar domestik jadi pilihan untuk bisa terus eksis, apalagi katanya kondisi terbalik terjadi, dimana 60 persen pasar logistik justru ada di domestik. “ Kalau untuk ekspor sekarang hanya sekitar 40 persen aja, lain hal kalau dulu iya, ekspor kuasai pasar sekarang justru terbalik,” tukasnya.

Mengingat lokasi Naval Cargo yang berada di daerah industri dan UKM, ia menjelaskan sudah menjadi tanggung jawab pihaknya untuk mendorong maju UKM melalui sebaran informasi. Baik itu produk, kualitas, termasuk juga pasar yang potensial. “Kita harus berikan dulu informasi pada mereka, atau apa yang mereka butuhkan, sebelum kita terima apa yang mereka berikan,” katanya sembari berujar, motivasi sangat diperlukan para pengrajin dalam menghadapi tantangan dan peluang ke depan.