Diposting : 5 August 2017 11:48
Agung Samudra - Bali Tribune
bamboo
Keterangan Gambar: 
AKAR BAMBU - Perajin akar bamboo sedang kerjakan karya.

BALI TRIBUNE - Ekspor kerajinan akar bambu hingga kini masih tetap stabil, sementara untuk pasaran lokal sejak beberapa bulan ini mengalami kelesuan. Merosotnya pemasaran lokal ini diduga terimbas oleh lesunya ekonomi masyarakat.

“Pasaran lokal kita sejak beberapa bulan terakhir turun drastic. Mungkin akibat dampak melesunya ekonomi masyarakat,”ujar perajin akar bambu I Kadek Sudanco, di bengkel kerjanya di Banjar Kembang Merta, Penglumbaran, Susut.

Sudanco mengaku masih beruntung, di tengah melesunya pasaran lokal, pasara ekspornya tidak mengalami penurunan. Pemesanan barang oleh langganannya di luar negeri seperti Italian, Prancis dan negera lainnya masih tergolong stabil. “Baru-baru ini saya mengirim sekitar 200 pices,” ujarnya.

Kendala yang dihadapi selain permodalan, dirinya juga mulai sulit mendapatkan bahan baku akar bambu. Kalau semula pasokan bahan bahan baku berasal dari desa yang menjadi sentra penghasil bambu seperti Penglipuran, Kayubihi dan sekitarnya. Namun kini sampai membeli bahan baku dari luar daerah. “Belakangan ini kita mulai sulit mendapatkan bahan baku,” sebutnya.

Sementara, salah seorang perajin Gede Muli menyebutkan ongkos pembuatan kerajinan akar bambu dihitung dengan system borongan. Jadi kalau dihitung-hitung ongkos pengerjaan mencapai Rp 4.000 biji. Lanjut pria asal Buleleng ini, dalam sehari bisa mengerjakan patung akar bambu sekitar 40 biji. “Dalam sehari saya bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 160 ribu”ujar bapak tiga anak ini.