Bali Tribune, Senin 21 Mei 2018
Diposting : 27 November 2017 19:24
Arief Wibisono - Bali Tribune
Ubud Fashion Week
Keterangan Gambar: 
THE EMBRYO OF UBF - Chairman Ubud Fashion Week, Tjok Gede Bayuputra Sukawati (kanan) bersama Ketua BPC HIPMI Gianyar, I Wayan Gede Ari, pada sesi pembukaan Ubud Fashion Week 2017 di Puri Lukisan Ubud, Sabtu (25/11)

BALI TRIBUNE - Insan muda generasi penerus Ubud memiliki tanggung jawab dan tugas besar untuk selalu menstimulasi perkembangan. Mereka dituntut untuk terus berinovasi, terus berkarya, dan pada saat yang bersamaan turut menjaga dan mengarahkan perkembangan ini agar budaya ini tumbuh tanpa harus merusak budaya yang diwariskan oleh pendahulu.

Ubud and Beyond bertujuan untuk menjadi sebuah wadah yang membawahi beberapa bidang konsentrasi seni, yang nantinya akan dapat menjadi tolok ukur jauhnya tingkat inovasi yang telah berkembang. “Banyak karya baru yang dilahirkan oleh para pecinta seni di Ubud yang harus kita apresiasi sehingga bisa menambah koleksi kekayaan budaya kita. Konsentrasi tersebut mencakup, seni fashion & jewellery, seni musik & tari, seni tataboga, seni lukis & patung (instalasi/sclupture), digital visual art, dan aliran lain yang mendukung perkembangan seni daerah,” ujar Chairman Ubud Fashion Week, Tjok Gede Bayuputra Sukawati, pada sesi pembukaan Ubud Fashion Week 2017 di Puri Lukisan Ubud, Sabtu (25/11).

Dia menjelaskan, dari semua bidang yang ada, masing-masing akan dikemas dalam event serial yang akan berlangsung sepanjang tahun sebelum event utama yaitu Ubud & Beyond Festival di bulan Agustus 2018, bersama dengan perayaan bulan Kemerdekaan Republik Indonesia. “Dalam event ini nantinya dari setiap bidang tersebut akan ditampilkan secara khusus dan eksklusif sehingga dapat ditunjukan kualitas dan arahnya sebagai komponen penting dalam perkembangan seni daerah kita. Dan oleh sebab itu, maka semua itu patut untuk kita apresiasi dalam bentuk sebuah selebrasi,” jelas Tjok Bayu begitu kerap disapa.

Ketua BPC HIPMI Gianyar, I Wayan Gede Ari, yang juga hadir dalam kesempatan ini juga menimpali, dilaksanakannya “The Embryo of Ubud Fashion Week2018” ini diharapkan dapat melahirkan awareness di lingkungan masyarakat untuk event “Ubud Fashion Week 2018”. Menurut Tjok Bayu terwujudnya agenda ini bisa dikatakan sebuah tolok ukur baru di dunia fashion yang dapat meningkatkan brand image Ubud sebagai sebuah destinasi pariwisata sehingga dapat menjadi lokomotif yang akan menarik dan memaju-kembangkan hasil karya daerah lain sebagai gerbong seni. Selain itu, juga membangkitkan kecintaan terhadap karya-karya yang bersifat tradisi dan budaya.

Lebih jauh lagi, kehadiran event ini dapat menjadi semangat baru bagi para pencipta seni dengan diberikannya sebuah bentuk apresiasi dan selebrasi. “Kami ingin wujudkan sebuah terobosan baru sebagai sasaran pengembangan talenta dibidang seni dan kreasi. Dapat turut berkontribusi dalam mendorong kunjungan wisatawan ke Ubud dan Bali pada umumnya,” ucapnya. Ia berharap kegiatan ini tidak hanya sesaat tapi menjadi momentum untuk diselenggarakan secara berkesinambungan. Untuk itu, dibutuhkan pemikiran dan kerja keras serta materi yang tidak sedikit. Karena itu, perlu sinergitas berbagai pihak untuk turut serta mengembangkan brand image dimaksud.