Bali Tribune, Minggu 27 Mei 2018
Diposting : 28 August 2017 17:58
Arief Wibisono - Bali Tribune
Didin Noor Ali
Keterangan Gambar: 
Didin Noor Ali

BALI TRIBUNE - Perkembangan bisnis berbasis teknologi sudah merambah berbagai lapisan masyarakat. Transaksi menggunakan kecanggihan teknologi bisa dilakukan di mana dan kapan saja, serta oleh siapa saja.

“Jadi dengan kecanggihan teknologi kita sudah bisa melakukan berbagai transaksi apapun sesuai dengan kebutuhan kita,” ujar Director Commercial and Partnership PT Bimasakti Multi Sinergi, Didin Noor Ali, yang ditemui saat pembukaan Kantor Cabang Toko Modern Fastpay di Jalan Tukad Yeh Aya, Denpasar, Minggu (27/8).

Menurutnya Fastpay merupakan bagian dari usaha yang dijalankan PT Bimasakti seiring dengan dinamika bisnis modern. Di mana perkembangan bisnis disegala bidang yang selalu berubah, menuntut perubahan dan transformasi bagi perusahaan secara dinamis agar tidak tertinggal di pasar modern.

“Hal ini juga terjadi pada Sentra Bisnis Fastpay (SBF) yang berkembang sejalan dengan dinamika bisnis modern. Faktor geografis yang luas serta penyebaran ekonomi yang belum merata menjadi penyebab kami melakukan ekspansi ke daerah daerah dalam memberikan kemudahan serta mengembangkan usaha lokal masyarakat menjadi semakin berkembang di era modern,” ujarnya.

Disebutkan lebih dari 93 ribu outlet telah didirikan dalam mengakomodir keperluan masyarakat, yang menurutnya kebutuhan pasti yang tidak bisa dihindari. Di samping sebagai peluang usaha, bisnis model ini memiliki market yang sangat luas dan potensial. “Ini bukan bisnis musiman. Bisnis ini bisa terus menguntungkan,” katanya.

Berdasarkan data Bank Indonesia Tahun 2016 transaksi micropayment untuk pembelian dan pembayaran tagihan lebih dari 900 trilyun rupiah. Terkandung potensi sangat besar dalam bisnis ini selain kebutuhan traveling mencapai 13% GDP (Gross Domestic Product) Indonesia dengan estimasi mencapai Rp360 triliun.

Berikut transaksi yang kerap dilakukan tagihan bulanan rutin (PLN, PDAM, Telepon, Leasing, tv, dll), membayar Asuransi BPJS, pembelian pulsa, paket data, voucher game, kebutuhan travel (tiket pesawat, kereta, kapal PELNI, hotel, dll).

Kemudian, paket wisata (domestik, mancanegara, umroh, dll), ekspedisi, periklanan, setor dan tarik tunai uang, dll. “Dari data dan fakta di atas arus perputaran uang di Indonesia mencapai milyaran bahkan trilyunan rupiah dan merupakan peluang emas untuk mendapatkan kesempatan melalui SBF,” pungkas Didin.