Bali Tribune, Sabtu 21 Juli 2018
Diposting : 4 April 2018 00:02
Mohammad S. Gawi - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Niat dan perjuangan untuk mempersatukan wilayah Nusantara sesungguhnya sudah dimulai sejak Kerajaan Nusantara II; Gajah Mada. Sumpah yang dikumandangkan Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkhubumi tahun 1258 (1336 Saka) itu menjadi monumental dimana sang raja membiarkan diri menderita dengan berpuasa sampai seluruh wilayah Nusantara yang disebutkan dalam sumpahnya itu bisa direngkuh dalam kekuasaannya.

"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa". Artinya: Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Tonggak sejarah tentang konsolidasi persatuan bangsa terjadi lagi di tahun 1928. Kala itu, tepatnya tanggal 28 Oktober, bertempat di Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, pada sesi terakhir Kongres Pemuda II yang dihelat dalam dua hari itu, Pemuda-Pemudi Indonesia mengumandangkan sumpah; bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia.

Kongres tersebut dihadiri berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Album sejarah bangsa yang penuh dengan warna-warni ini seakan menyentuh manusia Indonesia masa kini yang mulai kehilangan jati diri. Saling hujat, cari maki dan saling merendahkan antar sesama anak bangsa, demikian masif di ruang publik maupun jagad maya.

Setiap hari produksi kata-kata bernuansa SARA, saling merendahkan dan saling ancam seperti yang kemudian memicu konflik antara tokoh pendukung dan oposan, terus membuat langit nusantara membara.

Kita tak mampu meramu kebhinekaan sebagai mozaik nusantara seperti yang ditunjukkan tokoh-tokoh muda angkatan 1928 dan 1945, yang kondisi penuh tekanan, mampu mengorganize diri dengan identitas daerah masing-masing kemudian menciptakan simpul dengan nama pemuda indonesia.

Kita, anak bangsa generasi milenia saat ini, tak punya nyali sekuat Gajahmada yang dengan keberaniannya, Dia mampu menyatukan nusantara. Kita juga tak sesolid generasi 1928 yang dengan identitas bawaan masing-masing, kemudian menyatu dalam identitas baru.

Padahal, kita, generasi milenia saat ini hidup di dunia yang makin maju, fasilitas hidup yang mendekati sempurna, akses informasi dan ilmu pengetahuan yang mudah dan murah, pun organ-organ sosial yang tumbuh dengan ragam misi. Namun, mereka lelah mengurus dan mencari resolusi konflik yang timbul dari identitas bawaan masing-masing. Perbedaan bukannya menjadi pemerkaya dan penopang persatuan, malah "dipaksa" menjadi sama dengan segala konsekuensinya.

John Naisbitt and Patrisia dalam bukunya Global Paradok-paradok sudah menduga, dalam dunia yang semakin modern, akan tumbuh paradok-paradok yang sosial. Ketika itu, gagasan inklusivitas merambah di segala bidang, sebaliknya eksklusivitas akan tumbuh di sela-selanya. Inilah yang sedang berkembang di Indonesia.

Untuk mengembang erosi persatuan ini, Pemerintah Jokowi-JK sudah saatnya mulai mengubah orientasi dari pengembangan infrastruktur kepada upaya pembinaan bangsa. Agenda aksinya bisa berupa latihan bela Negara dengan konsep yang tepat, menciptakan event pertemuan pemuda dari semua suku bangsa di Indonesia dengan intensitas yang memadai, mendekatkan jarak Negara-Warga dengan mengurus dan memberi perhatian secara proporsional kepada kegiatan keagamaan semua penganut agama dan kegiatan-kegiatan seni budaya bagi semua suku bangsa di Indonesia.

Kita harus malu kepada para pemuda dari berbagai suku dan daerah yang mengumandangkan sumpah di Tahun 1928, para pejuang yang meneteskan darahnya di medan juang selama masa perjuangan kemerdekaan dan para pendiri Negara yang telah meletakkan fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Janganlah biarkan negeri ini dicabik-cabik oleh ambisi dan emosi sesaat.

Bahwa sangat mahal harga persatuan dalam keberagaman daripada keseragaman dalam benturan. “Bukankah pelangi itu Indah karena menyatunya berbagai Warna?”.