Diposting : 13 October 2017 20:02
Redaksi - Bali Tribune
DRONE
Keterangan Gambar: 
NABRAK – Dron Koak saat akan diluncurkan, Kamis kemarin untuk mendeteksi kondisi Gunung Agung lebih akurat. Namun sayang drone ini gagal mengudara dan menabrak jembatan.

BALI TRIBUNE - Hari kedua, PVMBG dan BNPB masih berusaha untuk mendapatkan gambar udara tentang kondisi terkini permukaan kawah Gunung Agung.

Setelah sehari sebelumnya PVMBG menerbangkan pesawat drone berukuran kecil untuk memetakan dan mengambil gambar areal yang masuk zona berbahaya radius 12 kilometer, Kamis (12/10), pilot drone kembali mencoba menerbangkan dua drone berukuran besar yang lebih canggih dari sebelumnya, kendati kondisi cuaca di Kecamatan Kubu tidak mendukung karena angin kencang dengan arah berubah-ubah.

 Tiba sekitar pukul 10.00 Wita, teknisi drone menurunkan dua buah pesawat drone, masing-masing Koak WAP yang merupakan drone paling canggih di kelasnya, dan drone Tawon yang ukurannya sedikit lebih kecil. Butuh waktu sekitar 4 jam para teknisi ini menyiapkan drone hingga betul-betul siap diterbangkan. Untuk keselamatan selama penerbangan, para teknisi dan PVMBG mendatangkan seorang pemangku untuk matur piuning dan memohon agar diberikan keselamatan dan kelancaran.

Setelah empat jam, sekitar pukul 14.30, Wita, drone Koak yang dilengkapi dengan kamera gerak beresolusi tinggi ini dibawa menuju landasan pacu dan siap untuk diterbangkan. Namun sayang kembali pilot dan teknisi harus menunggu cukup lama mengingat kecepatan angin terlalu tinggi ditambah lagi arah angin yang berubah-ubah.

Penerbangan pertama drone gagal take off, dimana ketika pesawat drone sudah meluncur di landasan pacu namun akhirnya dibrake lantraran sampai di akhir landasan drone tidak bisa meninggalkan landasan. Setelah dilakukan pemeriksaan, selang lima menit kemudian pilot berbalik arah menerbangkan pesawat dari arah berlawanan karena saat itu arah angin berubah.

Pesawat drone Koak pun meluncur di landasan pacu berkerikil, dan drone memang berhasil take off, namun sayangnya pesawat aeromodeling yang sering disebut robot udara ini kehilangan daya angkat sebelum akhinya menabrak jembatan yang membentang di jalur utama Karangasem-Singaraja, atau tepatnya di selatan galian C milik PT Bumi Pasir Mandiri.

Pesawat drone canggih itu pun hancur. Melihat kejadian itu, seorang warga langsung turun ke bawah jembatan untuk mengangkat bangkai drone yang seharusnya terbang di atas kawah untuk menyelesaikan misi pengambilan gambar udara kawah Gunung Agung tersebut.

Bangkai pesawat dinaikkan ke atas landasan dan diserahkan ke teknisi. Terkait hal ini pilot drone, Agus MT, mengaku drone yang dikendalikannya itu gagal take off karena beberapa faktor, di antaranya landasan pacu yang pendek dan berkerikil.

“Selain itu arah angin juga terus berubah-ubah. Dan penyebab utamanya karena landasan berkerikil sehingga kecepatan drone untuk take off tidak maksimal. Untuk bisa take off kecepatan drone harus 60 kilometer per jam,” ungkapnya.