Bali Tribune, Rabu 25 April 2018
Diposting : 3 July 2017 19:14
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
PKB
Keterangan Gambar: 
PUKAU - Gong kebyar anak-anak duta Kabupaten Jembrana pukau penonton PKB XXXIX Sabtu malam.

BALI TRIBUNE - Pentas Gong Kebyar Anak-anak Duta Kabupaten Jembrana dengan Duta Kabupaten Gianyar yang tampil pada PKB ke XXXIX Sabtu (1/7) malam di Panggung Terbuka Ardha Candra Art Center Denpasar. Sanggar Seni “Gita Kumara” yang beranggotakan siswa-siswi SMP Negeri 1 Negara mewakili Kabupaten Jembrana tampil memukau penonton saat tampil bersanding  dengan “Semara  Madu” duta Kabupaten Gianyar.

Penonton memadati areal Ardha Candra termasuk Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan beserta istri Ni Nyoman Ani Setiawarini larut di tengah ramainya penoton. Selama berlangsunya pentas Gong Gebyar tersebut, masing-masing duta Gong Kebyar anak dari dua kabupaten menampilkan 4 pementasan yang tiga diantaranya terdapat  fragmen tari.

Duta Bumi Makepung Jembrana diantaranya menampilkan tabuh Telu Lelambatan “Banyu Mampeh”, tari kreasi “Krisna Kaliya”, Tari “Jauk Manis” serta Tari Dolanan “Mepancing  Pancingan”. Sementara itu duta dari bumi seni dan budaya Gianyar sebagai kota pusaka menampilkan tabuh telu “Tulak Singkal”, tari Kebyar “Terompong”, tari kreasi “Rare Pancung” dan Tari Dolanan “Muruk Ngigel”.

Atraksi yang ditampilkan secara bergiliran itu mendapat decak kagum penonton. Duta Kabupaten Jembrana pada penampilan keduanya membawakan tari kreasi Krisna Kaliya. Tari yang mengisahkan kepahlawanan Krisna kecil ini  membawa pesan untuk selalu mestarikanlah sumber mata air yang dimiliki seperti air terjun  sehingga unsur-unsur yang ada didalamnya bisa bisa bermanfaat dan dpat dinikmati serta berguna bagi masyarakat. Tari Garapan ini dikoordinir oleh I Made Riantori dan I Nengah Ari Astika. Di akhir pementasan, tidak mau kalah dengan Gianyar yang menampilkan tari dolanan “Muruk Ngigel”, Duta Jembrana membawakan Tari Dolanan “Mepancing Pancingan” yang digawangi Agus Onet sebagai penata tari.

Dalam pragmen tari mepancing pancingan yang membawa humor jenaka itu mengisahkan seseorang yang suka membuang sampah sembarangan sehingga membuat keberadaan sungai menjadi kotor dan tercemar sehingga ekosistem yang ada seperti ikan populasinya pun menjadi terganggu. Mengetahui adanya masalah tersebut, seorang pemancing memberitahukan dampak yang ditimbulkan dari kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya salah satunya disungai dan mengajak masyarakat untuk semua menjaga dan melestarikan lingkungan alam dan sekitar.

Dengan bahasa dan logat asli “Negaroa”, tampilan ini sukses mengundang gelak tawa penonton. Wabup Kembang yang tampak memotivasi para penabuh dan penari saat tampil mengaku mengapresiasi tampilan garapan dan karya seniman-seniman muda Jembrana yang tidak kalah bersaing dengan karya-karya garapan seniman lainnya di Bali.