Diposting : 2 June 2018 15:12
Release - Bali Tribune
yatim piatu
Keterangan Gambar: 
Dua anak yatim piatu di Br. Tihingan Kauh Desa Bebandem, Karangasem, Ni Putu Suniati, (19) dan adiknya I Komang Gede Suarjana (14) tunjukkan kartu BPJS yang mereka miliki.
BALI TRIBUNE - Gubernur Bali Made Mangku Pastika melalui staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali belum lama ini berkunjung ke Br.Tihingan Kauh Desa Bebandem Karangasem. Kunjungan dimaksud dilakukan guna meninjau kondisi serta memberikan bantuan bagi dua anak yatim piatu yang ada di banjar tersebut.
 
Adalah Ni Putu Suniati, (19) dan adiknya I Komang Gede Suarjana (14) dua anak yatim piatu di Br. Tihingan Kauh  Desa Bebandem, Karangasem memperoleh bantuan dari Gubernur Bali.
 
Sepeninggal kedua orang tuanya (Ni Wayan Luh Asih 7 tahun silam serta ayahnya, I Ketut Lapir, red), kondisi kakak adik ini sangatlah memprihatinkan.
 
Berdasarkan data kependudukan desa setempat, keluarga itu tercatat sebagai KK miskin. Setiap bulannya, keluarga ini memperoleh jatah Raskin dari pemerintah serta bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp 1,8juta.
 
Sayangnya, I Komang Gede Suarjana yang masih tercatat sebagai siswa kelas di SMPN 1 Bebandem belum memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP), sementara Ni Putu Suniati yang baru saja menamatkan pendidikannya akan memilih untuk bekerja setelah pelaksanaan upacara pengabenan mendiang ayahandanya 5 Juni 2018 ini.
 
Menurut Perbekel Bebandem,  I Gede Partadana kedua anak itu tidaklah benar anak-anak terlantar.
 
“Kedua anak ini tidak terlantar, mereka terurus bahkan memiliki keluarga (paman dan bibi) yang akan saling membahu untuk memperhatikan kelanjutan hidup mereka," tegasnya.
 
Saat ini,  dua bersaudara (Ni Putu Suniati dan adiknya I Komang Gede Suarjana tinggal disebuah rumah yang merupakan bantuan bedah rumah dari Kabupaten Karangasem tahun 2015.
 
Namun sayang, tempat tinggal mereka tidak memiliki kamar mandi, dapur dan jauh dari jalan desa.
 
Untuk keperluan makan mereka tetap mengandalkan bantuan dari paman dan bibi mereka (Nengah Kinten dan Wayan Suweca) yang berprofesi sebagai petani.