Diposting : 7 April 2018 16:47
Redaksi - Bali Tribune
guide
Keterangan Gambar: 
Suasana para guide lokal Mandarin saat ngruduk di Polsek Kuta, Jumat (6/4)dini hari.

BALI TRIBUNE - Seorang guide untuk wisatawan Tiongkok, Edy (36) dianiaya oleh temannya sendiri bernama Made Yastono (33) di wilayah Kuta, Kamis (5/4) pukul 21.30 Wita. Motif penganiayaan tersebut dilatarbelakangi rebutan tamu.

Informasi yang dihimpun Bali Tribune siang kemarin mengatakan, aksi penganiayaan ini berawal pada pukul 21.00 Wita, saksi Ahui mengajak saksi Aliang untuk bertemu di warung Kita Jalan Raya Kuta guna menyelesaikan permasalahan tentang guide yang mengambil tamu orang lain tanpa memiliki ijin. Dalam pertemuan tersebut, terjadi cekcok mulut dengan orang-orang yang di sekitar. Sehingga datang korban Edy berusaha menenangkan situasi dengan mengatakan "jangan ribut".

Akibatnya, pelaku yang merupakan rekan - rekannya Ahui itu marah dan langsung memukul Edy. "Pelaku pukul menggunakan tangan kosong mengenai mulut korban. Tetapi ada rekannya - rekan mereka yang lain juga membanting kursi, melempar botol bir di atas meja yang membuat masalah tersebut menjadi ramai," ungkap salah seorang guide.

Kapolsek Kuta Kompol I Nyoman Wirajaya membenarkan terkait adanya kejadian tersebut. "Terlapor sementara dimintai keterangan. Ini diduga bermotif salah paham. Kami masih dalami keterangan terlapor dan beberapa saksi,"Singkatnya.

Informasi lainnya yang diperoleh, bahwa salah satu wisatawan asal Hwangdong Tiongkok yang mengaku bernama Ahui disebut - sebut sumber dari permasalahan ini. Pasalnya Ahui dituding keras menggunakan visa turis untuk melakukan pekerjaan guide Mandarin di Bali.

Sehingga oleh beberapa guide Mandarin lokal yang tergabung dalam HPI menolak keras keberadaannya. Lebih - lebih Ahui kerap menyerobot tamu.

Diduga tak terima terhadap sikap penolakan dari grup guide Mandarin lokal yang tergabung dalam HPI tersebut. Keduanya ALN dan Ahui kemudian menyewa beberapa orang dari ormas di Bali untuk menganiaya salah satu anggota guide Mandarin lokal atas nama Edi di Warung Kita di Tuban pada Kamis (5/4) malam.

Hal senada ditegaskan oleh Kabid Kesra HPI Yoshua Michael (49) alias Wisnu bahwa pihaknya resah dengan keberadaan guide nakal seperti Ahui.

Terlebih kunjungannya ke Bali menggunakan visa turis untuk bekerja. Hal tersebut dinilai ilegal dan pihaknya meminta kepada pemerintah terkait untuk menertibkan permasalahan semacam ini. "Kami terus terang terancam dengan guide - guide seperti itu. Terus terang kami punya hak. Kami disini bayar pajak. Tapi dia (Ahui) menggunakan visa turis untuk bekerja sebagai guide Mandarin di Bali. Sering menyerobot tamu. Sebulan disini, lalu balik lagi melakukan lagi seterusnya begitu. Jadi sudah berkali - kali melakukannya," jelasnya.

Atas kejadian penganiayaan tersebut pihaknya lantas melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Kuta. Sayangnya dari pihak ALN maupun Ahui tetap bersikeras dan dinilai tidak kooperatif.

"Dia menggunakan visa turis untuk melakukan pekerjaan. Ini nggak bener. Kedua telah melakukan pengananiayaan 5 sampai 6 orang kepada rekan kami. Kami minta mereka diproses kami nggak mau dia seenaknya saja. Kami inginnya dia diproses secara hukum. Ini yang kami ingin beritahukan kepada pemerintah bahwa memang sudah terjadi tenaga kerja asing ilegal yang berusaha cari makan di Bali. Ini sudah melanggar," terangnya.

Meskipun belum ada penetapan tersangka namun pihaknya mengaku akan terus memonitor kasus ini. Sementara point permasalahan satunya lagi terkait tenaga kerja ilegal, akan pihaknya laporkan juga.