Diposting : 10 October 2017 19:23
Arief Wibisono - Bali Tribune
Gunung Agung
Keterangan Gambar: 
Gunung Agung ‘Galau” LBF ke-10 Optimis Datangkan Wisatawan

Jumpa pers pelaksanaan LBF ke-10 di Hotel Mandira, Legian, Senin (9/10).

 

 

 

Kuta, Bali Tribune

Pasca lesunya pelaku pariwisata di Bali dengan kondisi gunung Agung yang “galau” ditambah lagi ribuan wisatawan mancanegara yang membatalkan kunjungannya ke Bali. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat untuk menggelar acara tahunan Legian Beach Festival (LBF). Kegiatan yang ke-10 ini  rencananya akan berlangsung dari tanggal 11 s.d 15 Oktober 2017 di sepanjang pantai Legian yang diikuti oleh komunitas, masyarakat, juga peserta luar daerah.

Nyoman Sarjana, selaku Ketua Panitia pelaksana LBF mengatakan, festival kali ini mengusung tema "Explore Indonesia". "Konsep yang ditawarkan melalui kegiatan ini ialah mempromosikan pariwisata Nusantara melalui Bali," ujar Sarjana dalam jumpa pers terkait LBF di Hotel Mandira, Jalan Padma, Legian, Senin (9/10) kemarin.

Dijlaskam, even LBF ini bisa dikatakan lain dari even even yang pernah ada, pasalnya LBF memberikan peluang bagi kabupaten dan provinsi diluar Bali untuk turut serta berpromosi. Apalagi Bali hingga kini masih dianggap sebagai pintu gerbang pariwisata nasional. "LBF merupakan tempat berpromosi yang efektif. Kita siapkan booth juga stage bagi daerah yang ingin berpromosi, baik itu produk ataupun kesenian tradisionalnya," imbuhnya.

Dalam kesempatan ini Sarjana juga engatakan ada beberapa daerah di luar Bali yang akan ambil bagian dalam kegiatan LBF antaranya, Bandung, Banyuwangi, serta Bogor. "Tapi kita berharap ada lagi daerah lain yang akan bergabung nantinya selain ketiga daerah tersebut," sebut Sarjana.

Nyoman Sarjana yang telah malang melintang menangani even serupa menyampaikan, konsep LBF hingga kini tidak berubah sejak digelar pertama kali 10 tahun lalu. Bahkan diceritakan, awal diadakannya even ini masyarakat Desa Legian seolah antipati dengan kegiatan ini, bahkan dikasih stand gratiskan mereka menolak, tapi seiring berjalannya waktu justru warga berlomba lomba ingin berpartisipasi dalam kegiatan LBF.

"LBF tetap dikemas dalam nuansa tradisional dan modern tanpa meninggalkan konsep awal. Apalagi saat ini antusias masyarakat begitu besar dengan digelarnya LBF, pasalnya mereka bisa menarik manfaat dari kegiatan ini yang secara tidak langsung menggerakkan ekonomi masyarakat Legian, yang awalnya mereka menolak, tapi sekarang mereka berebut," katanya sumringah.

Rencananya pada pembukaan nanti juga akan diadakan karnaval yang akan melalui jalur sepanjang jalan Legian dan diikuti oleh seluruh partisipan. "LBF akan diawali dengan karnaval atau parade yang dimulai dari pantai di depan Padma Hotel menuju Melasti Stage. Dalam perjalanannya nanti parade akan diiringi Bali Custom dari AKARI Bali dan disambut Jegog Negara yang merupakan partisipasi dari Kabupaten Jembrana yang kemudian sampai di panggung disambut gong kebyar," sebutnya menjelaskan.

Sedangkan dari tempat yang sama Kelian Desa Adat Legian, I Gusti Ngurah Sudarsa menyatakan, LBF merupakan kegiatan bergengsi, oleh karena itu tidak ada salahnya jika kegiatan ini harus terus berlangsung. "Eksisnya kegiatan ini karena bersumber pada akar adat budaya masyarakat Legian yang notabene masyarakat Bali. Lagipula ritual, spiritual, kebersamaan, dan gotong royong jadi cikal bakal kegiatan LBF," tandasnya sembari dalam kesempatan ini ia  menyampaikan penghargaan pada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya LBF ke-10 ini.