Diposting : 2 October 2017 18:59
Redaksi - Bali Tribune
Gunung Agung
Keterangan Gambar: 
Gunung Agung kondisi Minggu (1/10) pagi kemarin, tampak sedikit bersih dari kepulan asap. Gambar diambil dari Desa Datah, Kecamatan Abang.

BALI TRIBUNE - Terjadinya rekahan di kawah Gunung Agung selebar 100 meter lebih, yang  ditemukan Pusat Vulkanologi Mitigas dan Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, bisa saja menandakan gunung tersebut segera meletus, namun bisa juga tidak meletus.

Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, Minggu (1/10) mengungkapkan, berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi di Gunung Agung, termasuk kemungkinan tidak terjadinya letusan.

“Kemungkinan itu (tidak terjadi letusan,red) tetap ada. Misalnya kalau gas dalam magma itu habis keluar. Tekanan gas dalam magma memegang peran penting, termasuk penentu apakah akan terjadi letusan dahsyat atau sebaliknya, tidak terjadi letusan,” ujarnya.

Namun permasalahannya, kata dia, sampai sekarang input magma dalam kawah Gunung Agung sedang berlangsung. Artinya, potensi letusan yang cukup besar masih  tinggi, terkecuali jika input magma itu habis keluar maka bisa saja tidak terjadi letusan. “Sebab yang mendorong magma itu keluar menjadi letusan adalah input gas itu sendiri,” imbuhnya.

Lantas apa yang menjadi tanda utama akan terjadinya suatu letusan? Dijelaskannya, tanda yang umum jika gunung api itu akan meletus adalah terjadinya tremor atau gempa dengan guncangan yang sangat besar dan itu berlangsung terus menerus tidak putus-putus dalam waktu yang lama, dan bisa berlangsung berjam-jam. Gempa tremor inilah yang perlu diwaspadai oleh masyarakat karena bisa menimbulkan kerusakan bangunan atau bahkan bisa mengakibatkan bangunan rubuh.

“Ya kalau tremornya sudah terjadi secara terus menerus, maka letusan akan terjadi dalam waktu singkat bisa dalam hitungan menit atau jam. Kalau misalnya tremor itu terus keluar, kita akan langsung sampaikan ke BNPB melalui pesawat radio,” ucapnya.

Setelah disampaikan ke BNPB pesan itu akan diteruskan ke penjaga sirene agar segera membunyikannya dan menyampaikan tanda bahaya itu kepada masyarakat melalui mikrophone.

Sedangkan guncangan dan durasi tremor itu sendiri, menurutnya tergantung dari kekuatan gunung api. “Kalau yang kuat ya tremor itu bisa terjadi sampai beberapa jam. Dan sebaliknya, kalau gunung itu sudah lemah, tremor akan terjadi hanya beberapa menit. Tremor itu bukan lagi gempa satu-satu tapi udah nyambung,” ulasnya.

Memang Gunung Agung  terlihat tenang secara visual, tapi potensi terjadi letusan dalam waktu dekat bisa sangat tinggi. Sementara sampai saat ini aktivitas kegempaan Gunung Agung masih terus meningkat, dari data yang terekam oleh Seismograf sepanjang hari kemarin, jumlah gempa sudah hampir mencapai 1.000 kali.