Bali Tribune, Sabtu 23 Juni 2018
Diposting : 13 January 2018 19:36
I Wayan Sudarsana - Bali Tribune
Gunung Agung
Keterangan Gambar: 
TINGGAL – Pengungsi Gunung Agung di GOR Kompyang Sujana Denpasar yang masih tersisa. Kemungkinan jumlah mereka akan bertambah setelah Gunung Agung kembali meletus.

BALI TRIBUNE - Sejumlah warga pengungsi Gunung Agung yang mengungsi di Denpasar telah memilih pulang kampung semenjak Kawasan Rawan Bencana (KRB) dipersempit. Namun demikian, pada Kamis (11/1) Gunung Agung kembali meletus. Hal ini pun membuat pengungsi semakin galau. Sejumlah pengungsi yang awalnya sudah berniat pulang kampung semakin galau apakah harus bertahan di pengungsian atau pulang ke kampung halaman.

"Beberapa warga sudah pulang kampung. Sekarang masih beberapa saja, maunya sudah pulang kampung tapi Gunung Agung malah meletus lagi," ujar salah satu pengungsi, Ida Ayu Parmi ditemui di posko pengungsi Gor Kompyang Sujana, Denpasar, Jumat (12/1).

Ia  mengaku sempat berniat pulang kampung, namun karena Gunung Agung meletus kembali, ia masih tetap mengungsi  lantaran kasihan dengan anaknya yang masih kecil. 

“Saya kasihan dengan anak-anak, kalau di kampung jika ada awan hitam keluar saja sedikit sudah was-was. Sehingga harus berlarian, hampir semua warga panic,” terang Dayu Parmi.

Ia mengungkapkan sudah sempat pulang kampung, tetapi saat melihat langsung Gunung Agung kembali mengeluarkan asap, perasaan khawatir kembali berkecamuk.

"Sebelumnya KRB dipersempit, tapi kemarin Gunung Agung meletus, warga yang sudah pulang kampung jadi merasa bimbang untuk kembali mengungsi atau tidak," ujar perempuan asal Untalan ini.

Sementara warga pengungsi lainnya, dari Bhuana Giri, Karangasem, I Made Sudana mengaku belum pernah sama sekali pulang kampung. Ia mengaku masih belum berani untuk tinggal di rumahnya, karena sangat berdekatan dengan Gunung Agung. “Ada rencana untuk pulang, tetapi kalau sudah aman,” paparnya.

Sudana juga mengaku selama di pengungsian ia masih kesulitan mencari kerja. Bahkan, ia sempat bekerja sebagai kuli bangunan di seputaran proyek yang ada di Denpasar. Selain untuk menambah uang bekal, dirinya bekerja agar ada uang bensin untuk pulang nanti. Sedangkan untuk makan Sudana sudah dapat di pengungsian.

"Sempat bekerja seminggu yang lalu  jadi buruh bangunan, tetapi dari dua hari yang lalu saya tidak bekerja karena cuaca hujan terus,” terang kakek dua cucu tersebut.

Salah satu relawan dari Tagana, I Nyoman Swagina menjelaskan, pengungsi di GOR Kompyang Sujana hanya tinggal berjumlah 20 jiwa terdiri dari terdiri atas 10 orang perempuan dan 10 orang laki-laki. "Pengungsi mulai pulang sejak dipersempit radius berbahaya dampak erupsi Gunung Agung beberapa waktu lalu," terangnya.

Ia juga mengungkapkan, dari pengungsi yang bertahan, sudah berniat untuk pulang kampung. Bahkan dua kepala keluarga di antaranya akan mengurus surat rekomendasi untuk pulang kembali ke kampung halaman mereka. "Mereka sedang galau, mau pulang ternyata ada letusan kembali," imbuhnya.