Diposting : 1 October 2016 10:59
redaksi - Bali Tribune
simulas
Keterangan Gambar: 
EVAKUASI – Tim Basarnas mengevakuasi salah satu korban kritis ke RSUP Sanglah dengan menggunakan heli dalam simulasi penaggulangan bencana erupsi Gunung Agung, Kamis (30/9).

Amlapura, Bali Tribune

Sejumlah warga tewas dan ratusan lainnya luka-luka terkena abu vulkanik panas dari letusan Gunung Agung, Jumat (30/9). Untuk mengevakuasi korban luka dan meninggal yang terjebak di sebuah desa di Bebandem, Tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD Provinsi dan Kabupaten Karangasem, TNI, Kepolisian, Tagana, dan pecalang mengerahkan puluhan ambulance, meski tim SAR sempat kesulitan melakukan evakuasi lantaran abu vulkanik yang cukup membahyakan.

Raungan mobil ambulance melaju dengan kecepatan tinggi membawa korban yang berhasil dievakuasi tim SAR menuju posko penanggulangan korban yang didirikan oleh tim DVI Polda Bali di Stadion Jalur Sebelas, Amlapura. Sementara sejumlah korban kritis langsung dilarikan ke RSUD Karangasem untuk mendapatkan perawatan intensif. Salah satu korban kritis lainnya asal Bebandem yang berhasil ditemukan tim SAR langsung dievakuasi menggunakan Heli Basarnas menuju RSUP Sanglah.

Sebelum terjadi erupsi, warga sempat berulang kali dikagetkan dengan guncangan keras gempa vulkanik yang disertai semburan abu vulkanik panas, warga langsung panik dan berlarian berlindung di bawah meja dan tempat aman.

Itulah proses evakuasi dan penanganan para korban erupsi Gunung Agung dalam simulasi penanggulangan bencana erupsi Gunung Agung yang berlangsung sangat dramatis. Simulasi kemarin dibuat seperti kejadian sungguhan sehingga warga di empat kecamatan di Karangasem seperti Kubu, Rendang, Selat dan Bebandem sempat kebingungan dan ikut panik karena mengira Gunung Agung benar-benar atau sungguhan meletus.

“Saya sampai panik dan kebingungan katanya Gunung Agung meletus, bingung kemana harus mengungsi. Karena saya lihat petugasnya dan banyak ambulance yang ngebut kearah Bebandem. Eh taunya cuman simulasi,” ungkap Fahrudin, seorang warga Subagan, yang akhirnya datang ke lokasi simulasi untuk mengobati rasa penasarannya. Dia sendiri mengaku sampai merinding melihat bagaimana petugas dengan sigap mengevakuasi korban.

Simulasi penanggulangan bencana erupsi Gunung Agung ini memang sengaja dibuat seperti sungguhan persis seperti kejadian letusan gunung merapi di daerah lain. Bahkan tim SAR pun harus berusaha mencari puluhan warga yang dilaporkan hilang pasca letusan Gunung Agung sebelum akhirnya menemukan warga tersebut tergeletak disemak-semak dan ada yang tergelantung diatas pohon.

Dalam simulasi kemarin, Wasdalops masing-masing tim juga harus menghitung kecepatan anggotanya dalam mendirikan tenda pengungsi, memantau kecepatan pergerakan tim termasuk waktu tempuh ambulance dan tim evakuasi menuju lokasi daerah terdampak termasuk mengawasi SOP penanganan para korban dengan peralatan medis yang ada.

Untuk diketahui, sejak meletus terakhir pada tahun 1963, Gunung Agung dinyatakan masih aktif dan masuk dalam salah satu gunung berapi aktif di Indonesia. Artinya aktivitas vulkanik Gunung Agung bisa saja mengalami peningkatan kapan saja. “Memang Gunung Agung menjadi salah satu gunung merapi aktif di Indonesia, tapi saya tegaskan lagi disini aktifitas Gunung Agung masih normal dan belum ada peningkatan aktivitas vulkanik,” tegas Anwar Sidiq, petugas pemantau aktifitas vulkanik Gunung Agung dari Balai Vulkanologi.

Pun demikian dari aktivitas kegempaan, diakuinya memang ada tapi skalanya sangat kecil. Meski aktifitasnya masih normal dan tidak ada penningkatan, namun pihaknya terus melakukan pemantauan termasuk mendaki kepuncak guna mengecek keadaan kawah gunung bersama tim.