Diposting : 16 September 2017 16:16
Release - Bali Tribune
atiwa-tiwa
Keterangan Gambar: 
Krama Desa Pakraman Legian melaksanakan ritual ngaben sinarengan dan karya atiwa-tiwa. Tampak Wabup Ketut Suiasa serahkan dana hibah untuk pembangunan sejumlah pura di desa itu saat hadir dalam kegiatan dimaksud belum lama ini.

BALI TRIBUNE - Wakil Bupati Badung, Ketut Suiasa sikap kebersamaan, kegotongroyongan, pakedek-pakenyung yang ditunjukkan masyarakat dalam melaksanakan yadnya dan swadarmanya.

Hal tersebut disampaikannya saat hadir dalam pelaksanaan ritual ngaben sinarengan dan karya atiwa-tiwa yang dilaksanakan masyarakat Desa Pakraman Legian, Kamis (15/9) lalu.

Menurut Wabup, swadarma merupakan satu kewajiban utama dan pertama yang dilakukan oleh masyarakat dalam kaidah Hindu dengan dasar yadnya atau pengorbanan yang didasarkan pada rasa tulus dan iklas.

"Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Badung merasa senang dan bahagia, karena masyarakat bisa melakulan kegiatan swadarmanya membayar hutang kepada leluhur dengan dasar yadnya pakedek pakenyung,” ucapnya.

Lanjut dikatakannya, pelaksanaan yadnya itu sekaligus juga mengajaegkan adat, twatwa susila, agama dan upacara itu sendiri.

“Sehingga tercapai kehidupan yang memang berlandaskan Tri Hita Karana, yang semuanya itu berlandaskan yadnya demi tercapainya hidup yang harmonis," imbuh Suiasa.

Dipaparkannya, ritual yang dalam istilah Bali-nya dikenal dengan ngaben kinembulan itu merupakan kewajiban yang utama dan pertama yang dilakukan masyarakat dalam kaidah Hindu.

“Dimana dalam melaksanakan yadnya itu sendiri dilakukan atas dasar tulus ikhlas, kegotongroyongan dan kebersamaan masyarakat itu sendiri,” tambah Suiasa.

Dikatakannya, kewajiban Pemerintah Kabupaten Badung ditegaskannya akan selalu hadir, bukan hanya dalam bentuk fisik, untuk berupaya meringankan beban masyarakat, baik yang sifatnya ekonomis dan juga beban masyarakat dalam langkah-langkah dan upaya yang perlu dilakukan. "

“Kami berkomitmen dengan hal itu. Sehingga demikian seinergi masyarakat dengan pemerintah dalam melaksanakan kewajiban agamanya di kabupaten Badung ini benar-benar bisa terwujud," tegasnya.

Pada kesempatan itu Wabup Suiasa mendoakan agar yadnya yang dilaksanakan masyarakat Legian bisa berjalan antar, kenak rahayu, sida sidaning don dan nemu rahayu.

Diakhir kunjungannya, Wabup Suiasa menyerahkan bantuan hibah senilai Rp 512 juta untuk upacara atiwa-tiwa tersebut, Rp 1 milyar untuk biaya renovasi bale-bale di area Pura Dalem Kahyangan Legian dan Rp 750 juta untuk pembangunan Pura Melanting Pasar Desa Legian.

Sementara itu prawartaka karya, Nyoman Rutha Ady menerangkan karya nyekah serangkaian ngaben sinarengan ini adalah yang ke empat kalinya.

Dipaparkannya, ritual ini diikuti oleh 302 peserta terdiri dari ritual ngaben diikuti 91 peserta, nyekah 96 peserta dan ngelungah 115 orang.

Adapun total biaya serangkaian ngaben sinarengan dan atiwa-tiwa ini mencapai  Rp 1,6 milyar. Dana tersebut bersumberkan subsidi desa adat, program LPD Legian serta sumbangsih para donator.

Terkait biaya yang ditanggung masing-masing peserta, Rutha Ady menyebutkan, sebagaimana hasil keputusan paruman, untuk ngaben tiap sawa dibebani biaya Rp 4 juta, nyekah Rp 4 juta dan ngelungah Rp 1juta persawa.

"Kami di masyarakat snagat berterimakasih atas kehadiran pemerintah Kabupaten Badung, dalam setiap aktifitas masyarakat  baik itu keagamaan, fisik pembangunan dan lain sebagainya. Ini merupakan motivasi, penyemangat bagi kami dan  kami harap Pemda senantiasa memberikan tuntunan dan perhatiannya,"harapnya.

Ikut hadi dalam rombongan Nayaka praja Kabupaten Badung dan kecamatan Kuta, Perwakilan ketua majelis PHDI Badung, Kapolsek Kuta, Wadanramil Kuta, Bendesa adat Legian sekaligus wakil DPRD Badung bersama prajuru, Ketua LPD se-kecamatan Kuta, Majelis Alit desa pakraman Kuta dan tokoh masyarakat Legian.