Diposting : 23 September 2017 14:16
Arief Wibisono - Bali Tribune
SUBAK
Keterangan Gambar: 
Mahasiswa asing bersama para narasumber sesuai sesi presentasi dalam upaya mengangkat subak agar tidak tergerus di Museum Subak, Pantai Masceti, Gianyar.

BALI TRIBUNE - Andaikan suatu saat sawah dan subak Bali habis, maka dunia akan kehilangan salah satu warisan budaya dalam bidang pertanian yang sangat penting bagi umat manusia. Karenanya diperlukan berbagai upaya lain agar sistem subak Bali tetap lestari.

Hal itu terungkap dari apa yang disampaikan mahasiswa yang tergabung dalam Bali Internship Field School for Subak yang mempresentasikan bagaimana mengelola subak agar tetap lestari. “BIFS ini diselenggarakan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Gianyar,” ujar Ketua BPPI, Catrini Pratihari Kubontambah, dari Gianyar, Jumat (22/9).

Ia menyebutkan peserta BIFS datang dari masyarakat yang punya perhatian terhadap pertanian Bali. Selain dari Indonesia datang juga peserta dari Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Belanda, Hongkong, Korea Selatan, dan Palestina. Disebutkan UNESCO mengakui sistem subak Bali dari tahun 2012 sebagai salah satu World Heritage of Cultural Landscape (warisan budaya dunia untuk pusaka saujana).

Pengakuan terhadap subak adalah suatu yang membanggakan bagi Indonesia, Bali khususnya. Namun dalam perjalannya acapkali pengelolaan subak kerap menimbulkan banyak persoalan, seperti tergerusnya lahan subak setiap tahunnya yang disebabkan oleh berbagai sebab. “Sekitar 750 hektar tiap tahunnya lahan subak tergerus akibat alih fungsi lahan. Tentu hal ini mengindikasikan bahwa di Bali akan terus mengalami proses degradasi,” tukasnya.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, namun rupanya tidak cukup kuat membendung proses marjinalisasi subak. Padahal subak yang telah dibangun mulai abad ke 11 oleh leluhur masyarakat Bali yang dipimpin Rsi Markasnya, akhirnya mendapat pengakuan dunia. “Subak yang sudah menjadi pengakuan dunia, wajib dilestarikan keberlanjutannya agar tidak hanya menjadi cerita kedepannya. Untuk itulah para peserta BIFS menawarkan skema museum subak yang bisa menggambarkan bagaimana perjalanan subak itu,” tuturnya.

Dalam museum subak akan ditampilkan wajah subak, termasuk persolan yang kerap dihadapi termasuk didalamnya rekomendasi yang dirangkum untuk kelestarian subak. “Beberapa hal yang kita dorong untuk kelestarian subak antaranya, pembebasan PBB bagi subak yang telah ditetapkan UNESCO, keterlibatan organisasi atas alih fungsi lahan, penghargaan bagi yang punya perhatian terhadap subak, wisata budaya dan peduli lingkungan di kawasan subak, penghijauan, asuransi pertanian, dan beberapa poin lainnya yang mendorong lestarinya subak,” imbuhnya lagi.

Sedangkan Prof. Dr. Windia yang termasuk salah satu tim ahli dan narasumber dalam BIFS juga menimpali, dengan adanya museum bisa dijadikan Gambaran apa yang ada dianggap sangat cocok, karena dengan keberadaan museum maka akan mengangkat harkat martabat para petani. Diharapkan petani bisa punya sikap profesional hingga bisa meningkatkan taraf hidupnya.

Diakui sikap mental petani nasional masih bersikap tradisional. Dengan hadirnya museum bisa dijadikan rujukan. Konsep penataan representatif museum subak akan ada berkelanjutan. “Bisa dikatakan keberadaan museum akan jadi nilai tambah bagi petani, yang notabene ada keberpihakan secara ekonomi disamping pengetahuan yang didapat. Apalagi dengan konsep yang ditawarkan oleh BIFS tentu ini jawaban yang selama ini ditunggu, tinggal implementasinya aja,” tutuo Prof. Windia.