Diposting : 6 September 2017 17:07
Redaksi - Bali Tribune
penganiayaan
Keterangan Gambar: 
Dua warga negara Belanda ayah dan anak saat diamankan di Mapolsek Abang.

BALI TRIBUNE - Dua warga negara Belanda, Alexander Bernardus C Hock (74) dan anaknya Alexander Constantine (17), menghajar dua orang warga asal Banjar Dinas Lebah, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, hingga babak belur tanpa alasan jelas. Akibat perbuatannya itu WNA kelahiran Rotterdam ini, bersama anaknya harus berurusan dengan kepolisian.

Dua warga Banjar Lebah yang menjadi korban penganiayaan meneer Belanda tersebut masing-masing I Wayan Sudarma Alit (41) dan anaknya I Gede Sudarma Yasa (19).

Dari informasi yang dihimpun koran ini Selasa (5/9), kasus penganiayaan atau pemukulan terjadi pada Senin (4/9) sekitar pukul 16.30 Wita, namun oleh kedua korban baru dilaporkan kemarin.

 Sebelum kejadian, korban bersama anaknya serta adik kandung korban I Nengah Putu mengangkut bambu miliknya yang berada di pinggir jalan raya Amed-Jemeluk, atau tepatnya di seberang Villa Pondok Laut untuk dibawa pulang ke rumahnya yang berlokasi di atas bukit.

Singkat cerita, tiba-tiba pelaku Alexander Constantine keluar dari Villa Pondok Laut dan langsung mencari korban yang tengah memikul bambu.

 Pelaku saat itu ngoceh dalam bahasa Inggris yang tidak diketahui artinya oleh korban. Karena tidak mengerti arti perkataan meneer Belanda itu, korban pun tidak menghiraukannya karena korban merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Sebaliknya, pelaku langsung mendorong dan menghajar korban yang tengah memikul bambu itu sebanyak sepuluh kali di bagian dada dan perut. Korban yang sudah tua langsung tumbang dan meringis menahan sakit.

Sementara anak korban I Wayan Sudarma Yasa yang melihat ayahnya tumbang dihajar pelaku, langsung berlari untuk melerai dan melindungi sang ayah. Namun belum lagi bisa mendekati ayahnya, tiba-tiba Alexander Bernadus C Hoek yang tak lain adalah ayah pelaku, langsung keluar dari dalam vila dan menghajar Wayan Sudarma Yasa hingga anak korban itu tersungkur dengan luka robek pada bagian hidung dan bibirnya.

Tidak sampai di situ saja, ayah pelaku kembali menghampiri korban dan membantu pelaku menghajar korban hingga nyaris tak sadarkan diri. Lanjut ayah pelaku kembali menghampiri anak korban dan memukul anak korban pada bagian mukanya.

 Karena kejadiannya itu berada di pinggir jalan raya dan dilihat oleh banyak orang, usai menghajar korban dan anaknya, kedua pelaku buru-buru masuk ke dalam vila, namun beberapa saat kemudian kedua pelaku sempat keluar lagi dari vila sambil membawa potongan kayu yang diduga sarung sebuah senjata tajam sambil mengomel menggunakan bahasa asing.

 Tak terima diperlakukan seperti itu, korban bersama anaknya melaporkan penganiayaan tersebut ke Mapolsek Abang. Sementara untuk proses hukum, kedua korban langsung dilarikan ke RSUD Karangasem untuk divisum, sedangkan kedua pelaku langsung dicokok polisi untuk diamankan di Mapolsek Abang, sebelum menjadi sasaran kemarahan warga yang dari dulu sudah kesal dengan tindak tanduk kedua pelaku.

 “Pelaku belum mau dimintai keterangan dengan alasan harus didampingi oleh penasihat hukumnya,” tegas Kapolsek Abang, AKP Nyoman Sugitayasa, kepada wartawan kemarin.

Diakuinya memang selama ini warga sekitar sering kesal dengan ulah pelaku. Pelaku sering marah-marah ketika ada warga yang memasak nasi menggunakan tungku api. Sementara alasan pelaku memukul korban karena pelaku kesal korban menyetel musik keras-keras, dan itu dibantah korban karena korban merasa tidak pernah menyetel musik apalagi korban tinggal di atas bukit jauh dari vila tempat tinggal pelaku.

 “Anak pelaku kita lepas karena masih di bawah umur, dan kami juga sudah berkoordinasi dengan warga sekitar yang masih emosi dengan ulah kedua pelaku agar tidak berbuat anarkis,” pungkas Kapolsek.