Bali Tribune, Sabtu 21 Juli 2018
Diposting : 30 January 2018 22:41
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
gabah
Keterangan Gambar: 
HERAN - Petani padi di Jembrana mengaku heran dengan melambungnya harga beras, sedangkan harga gabah petani tidak pernah mengalami peningkatan.

BALI TRIBUNE - Harga beras yang semakin melambung di pasaran, membuat sejumlah pihak di Jembrana khawatir, hingga Bupati Jembrana I Putu Artha yang sempat meninjau ketersediaan beras di Gudang Bulog Jembrana mendorong Perum Bulog untuk menstabilkan harga, serta TNI, Polri dan intansi terkait melakukan pengawasan distribusi beras untuk mencegah penimbunan oleh spekulan justru ditanggapi sinis oleh para petani di Jembrana.

Sejumlah petani padi justru mengaku heran dengan harga beras di pasaran yang semakin merangkak diduga dikarenakan faktor cuaca buruk. Petani justru merarasa heran lantaran harga jual padi tidak mengalami peningkatan dan harga beli di tingkat pengepul masih sama seperti harga sebelumnya. Mereka pun mempertanyakan kenaikan harga beras yang cukup tinggi ini selisih jauh dengan harga eceran tertinggi (HET) beras kualitas medium Bulog.

Salah seorang petani padi di Kecamatan Pekutatan, Damirin mengaku petani padi di Jembrana sejak meningkatnya harga beras beberapa bulan belakangan ini belum pernah merasakan peningkatan harga beli gabah dari pengepul. Ia mengaku tidak mengerti dengan harga beras yang mengalami peningkatan ini. "Pengepul maupun pabrik penyosohan beras membeli padi kami tetap sama seperti sebelumnya, tapi kok bisa harga berasnya naik lumayan besar. Gak paham saya,” ungkapnya.

Ia mengatakan, seperti umumnya petani di Kabupaten Jembrana, ia menjual padi siap panen berdasarkan taksiran harga untuk setiap are. Menurutnya, saat ini harga padi siap panen ditingkat pengepul mencapai Rp240 ribu hingga Rp250 ribu. Harga itu menurutnya tergantung kualitas bagus tidaknya bulir padi serta posisi sawah. "Meskipun ada kenaikan harga pada panen kali ini, harganya tidak jauh dengan panen sebelumnya. Dibanding kenaikan harga beras, selisihnya lumayan besar," ujarnya heran.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana Wayan Sutama saat dikonfirmasi mengatakan idealnya mamang saat harga beras naik harga jual padi petani juga mengikuti kenaikan, namun semua itu juga diakui tergantung cuaca. Ia mengaku akibat anomali cuaca yang terjadi belakangan ini, sering kondisi di lapangan akan jauh berbeda dengan yang diharapkan, sehingga harga padi akan petani tetap sama seperti harga pada panen sebelumnya kendati harga beras di pasaran meningkat. Namun ia mengatakan, harga padi siap panen petani saat ini jauh lebih tinggi dibanding Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang dipatok Rp3.700 perkilogram gabah. "Sementara harga di petani Jembrana mencapai Rp 5 ribu perkilogram, dengan harga yang lebih tinggi dari yang ditetapkan pemerintah itu artinya petani kita disini masih menikmati harga yang baik,” ungkapnya.

Ia juga mengakui transaksi jual beli padi ditingkat petani memang tidak berdasarkan takaran kilogram tapi hitungan luas tanaman padi pearenya. Ia menyebutkan saat ini beberapa sentra pertanian padi di Kabupaten Jembrana sudah mulai panen, seperti kawasan persawah sepanjang jalan Desa Budeng menuju Kelurahan Sangkaragung, Jembrana.