Diposting : 4 August 2017 22:24
Komang Arta Jingga - Bali Tribune
pindang
Keterangan Gambar: 
PEMBUAT PINDANG - Salah seorang pembuat ikan pindang di Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan.

BALI TRIBUNE - Naiknya harga garam membuat pembuat ikan pindang di Tabanan kelimpungan. Pasalnya selain harga garam yang melonjak drastis, harga ikan juga ikut naik, namun pembelian ikan di pasaran cenderung menurun.

Hal itu diakui oleh salah seorang pembuat ikan pindang di Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan, Ni Wayan Suriati (49). Dirinya menuturkan bahwa kenaikan harga garam dialaminya sejak dua bulan belakangan ini, sehingga hal tersebut membuat dirinya kelimpungan. Ditambah lagi dengan naiknya harga ikan. “Harga ikan naik, garam juga naik,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kenaikan harga garam tidak tanggung-tanggung dimana saat ini ia membeli garam dengan harga Rp 4.000 per kilogramnya, sedangkan dua bulan lalu ia membeli garam hanya dengan harga Rp 1.000 per kilogramnya. “Kalau sebelumnya dalam sekali transaksi saya bisa membeli 1 ton garam, kalau sekarang paling hanya 3 karung, satu karung isinya 75 kilogram garam. Jika di uangkan dulu beli 1 ton dengan Rp 1.000 perkilogramnya kan cuma Rp 1 Juta, kalau sekarang Rp 900.000 Cuma dapat 3 karung,” paparnya.

Disamping itu kenaikan harga ikan segar juga membuat ia hanya bisa gigit jari. Dimana rata-rata ikan segar mengalami kenaikan mencapai Rp 2.000 hingga Rp 3.000 satu per kilogramnya. Seperti ikan Slungsung yang harga sebelumnya Rp 20.000 kini naik menjadi Rp 22.000 perkilogramnya, sedangkan ikan Anyar Kucing dari harga sebelumnya Rp 12.000 perkilogramnya kini naik menjadi Rp 15.000 perkilogramnya.

Suriati mengatakan dalam satu hari dirinya mampu menghabiskan kurang lebih 25 kilogram garam untuk memindang 6 hingga 7 kwintal ikan berbagai jenis, garam tersebut biasanya ia beli dari langganannya yang datang langsung untuk membawakan garam jenis Garam Krotok. Namun karena kenaikan harga garam dan ikan segar, kini dibantu sang suami ia terpaksa mengurangi jumlah produksi.

“Sekarang paling hanya memindang 3 sampai 4 kwintal saja karena pembelian di pasaran juga menurun akibat harga garam dan ikan yang naik. Kalau biasanya ikan Anyar Kucing sebelumnya saya jual 4 ekor seharga Rp 5.000 sekarang berkurang jadi 3 ekor per Rp 5.000. Dan itu saja sudah membuat pembeli berkurang, daripada nanti ikannya tidak ada yang membeli ya saya jual seharga modal saja biar tidak merugi,” jelas Suriati yang sudah menggeluti usaha membuat pindang selama 30 tahun.

Sehari-hari Suriati menjual ikan pindang buatannya di Pasar Dauh Pala mulai pukul 24.00 hingga 08.00, namun karena pembelian ikan pindang semakin menurun sering kali ia harus berjualan lebih lama sampai barang dagangannya habis. “Biasanya jualan dari pukul 01.00 sampai 08.00 saja habis sampai 60 panci, kalau sekarang tidak,” jelasnya.

Hal serupa dialami pembuat ikan pindang lainnya, Ni Ketut Sulasih (39),mengatakan jika ia juga terpaksa mengurangi produksi agar tidak merugi akibat harga garam dan ikan segar yang naik. “Biasanya per hari 3 kwintal, sekarang paling hanya 1,5 sampai 2 kwintal memindang ikan,” ujarnya.

Sebagai pengusaha kecil, ia pun berharap ada campur tangan Pemerintah agar harga garam tidak melonjak drastic sehingga ia bisa menjalankan usahanya seperti bisanya.