Bali Tribune, Sabtu 18 November 2017
Diposting : 14 September 2017 19:56
Arief Wibisono - Bali Tribune
Cartini Pratihari Kubontubuh
Keterangan Gambar: 
Cartini Pratihari Kubontubuh

BALI TRIBUNE - Hari ketiga penyelenggaran ICNT para peserta dari 31 negara diajak berkeliling dan melakukan workshop di Bali Safari Marine and Park (BSMP) yang berlokasi di Gianyar. Dalam workshop kali ini ada lima kelas workshop yang mendiskusikan bagaimana sebenarnya perpaduan antara budaya, tradisi, dan pelestarian lingkungan.

"Jadi dalam workshop kali ini ada paparan contoh-contoh dari berbagai negara, serta topik-topik utama yang menyangkut konservasi ataupun pelestarian pusakanya bagaimana," ujar Chairperson BPPI, Cartini Pratihari Kubontubuh di sela workshop, Rabu (13/9).

Terlihat para peserta workshop begitu antusias mengikuti kegiatan ini, apalagi para peserta yang berjumlah 200 orang sebelum masuk sesi workshop terlebih dahulu  diajak berkeliling di Bali Safari. "Mereka begitu mengagumi kekayaan alam Indonesia, khususnya keragaman satwa satwa serta varietas yang ada di Indonesia," ucap Cartini.

Selanjutnya Cartini menjelaskan, setelah makan siang para peserta diajak mengikuti plenary season yang disponsori oleh Amex. Dimana institusi ini telah banyak sekali melakukan kegiatan pelestarian, tidak hanya di Amerika, tapi juga di berbagai negara dunia ketiga. "Untuk Indonesia kita juga pernah menerima dukungan dari Amex saat terjadi gempa di Yogyakarta terkait pelestarian pasca bencana dan topik ini salah satu yang akan diangkat dalam sesi selanjutnya," katanya lagi.

Lantas pada sore hingga malam para delegasi akan dijamu Bupati Gianyar untuk menghadiri makan malam bersama di Puri Gianyar. "Nah, ini tentunya adalah sebuah pesan yang ingin disampaikan Bupati dalam mengangkat kekayaan dari aneka budaya Indonesia, khususnya Bali dan Gianyar yang akan ditampilkan pada saat makan malam," sebutnya.

Kegiatan ICNT menurut Cartini bagian dari berbagi pengalaman masing masing negara dalam menghadapi tantangan dalam pelestarian pusaka yang notabene dihadapi masing masing negara. "Apa saja sih tantangannya, bagaimana mengatasinya. Jadi tidak mutlak tantangan hanya dalam bentuk dana, tapi ada hal lain di luar itu yang mesti dipecahkan bersama," tutur wanita berkacamata ini.
Dalam kesempatan ini para delegasi bukan hanya berbagi dalam keilmuan, tapi juga cerita sukses negara negara yang berhasil mengatasi tantangan tersebut. "Misal temen kita di India, mereka sukses dengan heritage Education. Seperti apa yang bisa dilakukan oleh negara negara lain. Atau Indonesia yang terkenal  kuatnya menjaga adat dan tradisi mungkin ini yang perlu didengar oleh dunia, bahwa solusi masalah iklim, climate change mungkin bisa diatasi dari solusi itu.
Bahkan bagaimana dukungan dari pemerintah dalam atasi persoalan ini. Semua dibahas dalam workshop hari ini," tutupnya.