Bali Tribune, Sabtu 19 Agustus 2017
Diposting : 13 July 2016 14:20
ayu eka - Bali Tribune
guide
Keterangan Gambar: 
Sang Putu Subaya, SH.MH Par (kanan)

Denpasar, Bali Tribune

Terkendala keterbatasan jumlah guide atau pemandu wisata yang menguasai Bahasa Mandarin, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali dalam waktu dekat akan mendapatkan tambahan anggota. Menurut Ketua HPI Bali, Sang Putu Subaya, sebanyak 900 guide Mandarin yang tergabung di HPI Bali pada saat musim liburan khususnya Imlek, jumlah tersebut belum memadai dalam menangani kedatangan wisatawan Tiongkok.

Padahal jumlah kedatangan wisatawan asal Negeri Tirai Bambu ini ke Pulau Dewata setiap tahun jumlahnya semakin meningkat. Namun permasalahannya, hingga kini Bali masih kekurangan pasokan pemandu wisata yang menguasai Bahasa Mandarin.

Subaya mengaku bahwa HPI Bali telah menyiapkan sumber daya manusia (guide) guna memberikan pelayanan kepemanduan kepada wisatawan Tiongkok. “Kita memang didesak oleh kementerian dalam menyiapkan guide Mandarin yang diasumsikan jumlah kedatangannya (wisatawan Tiongkok) akan melimpah ke Bali,” katanya di Denpasar, Selasa (12/7).

Pihaknya pun mengaku telah mengundang masyarakat Bali yang menguasai Bahasa Mandarin untuk diberikan kesempatan menjadi pemandu wisata. Oleh karena Pemerintah Pusat telah membuka bebas visa kunjungan wisata bagi turis Tiongkok ke Indonesia dan jumlah kedatangannya pun semakin bertambah namun tidak diimbangi dengan ketersediaan pemandu. Maka kata dia dikeluarkan kebijakan baru untuk menerima masyarakat umum dari luar Pulau Bali yang menguasai Bahasa Mandarin agar direkrut menjadi pemandu turis Tiongkok.

Bersamaan dengan hal tersebut lanjut dia mengatakan bahwa peraturan yang mengatur tentang bagaimana menjadi guide pada Peraturan Daerah Bali Nomor 5 Tahun 2008, sekitar 1 bulan lalu peraturan itu direvisi dan beberapa pasalnya diubah. “Sebagai masyarakat harus menghormati hukum, masih menunggu sosialisasinya. Memang sudah diketok palu tapi prosedur formalnya agar bisa diterapkan dan mengikat masyarakat peraturan itu harus dicatatkan dulu di pusat menjadi lembaran daerah melalui Kementerian Dalam Negeri. Makanya kami belum bisa mensosialisasikan. Kemudian baru kita melaksanakan perekrutan penerimaan tenaga kerja profesi guide yang menguasai Bahasa Mandarin,” papar Subaya.

Terkait berapa jumlah guide Mandarin yang akan direkrut pihaknya belum bisa memastikan karena hal itu merupakan kewenangan Pemerintah Daerah Bali. Dia menyatakan dari jumlah 900 guide Mandarin yang ada saat ini pada situasi sedikit kunjungan wisatawan Tiongkok jumlah tersebut masih memadai.

“Kurang atau tidak tergantung jumlah kunjungan tamu Tiongkok. Kedatangan tamu juga tidak selalu stabil. Karena di pariwisata itu mengenal musiman. Tentu kekurangan (guide Mandarin) pada saat high season kedatangan Tiongkok terutama saat Imlek. Karena memang ada yang datang bergrup dan individual. Meski individual misalkan berdua atau berempat harus tetap dilayani juga oleh pramuwisata (guide),” urainya.