Diposting : 18 October 2017 19:16
Bernard MB - Bali Tribune
KB
Keterangan Gambar: 
BKKBN - Integrasi Kampung KB bersama Mitra Kerja, Kamis (12/10), di Br. Siig, Desa Manggis, Kabupaten Karangasem.

BALI TRIBUNE - Pembentukan Kampung KB (Keluarga Berencana) merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden Jokowi, agar manfaat program KB dapat lebih dirasakan secara langsung oleh masyarakat terutama yang berada di wilayah miskin, padat penduduk, tertinggal, terpencil dan wilayah nelayan di seluruh tanah air.

Demikian disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Ida Bagus Wirama, S.H., M.Kes pada saat memberikan arahan dan materi pada kegiatan Integrasi Kampung KB bersama Mitra Kerja, Kamis (12/10), di Br. Siig, Desa Manggis, Kabupaten Karangasem.
“Kampung KB ini merupakan program lintas sektor, bukan hanya BKKBN saja tapi semua instansi lintas sektor. Pemerintah maupun swasta kami berharap untuk mengambil peran di Kampung KB. Karena yang jadi lokasi kampung KB adalah desa dengan tingkat kemiskinan tinggi, sehingga harus tingkatkan kesejahteraan di Kampung KB dengan gotong royong,” ujarnya.

Universitas Warmadewa, yang diwakili oleh dr. I Gusti Ngurah Made Bayuningrat, Sp. OG., M.M., dalam paparannya tentang “1000 Hari Pertama Kehidupan” menyampaikan Untuk mencetak anak Indonesia yang sehat dan cerdas, langkah awal yang paling penting untuk dilakukan adalah pemenuhan gizi pada anak sejak dini, bahkan saat masih di dalam kandungan atau yang dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). 1000 HPK dimulai sejak dari fase kehamilan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).

“Seribu hari pertama kehidupan telah disepakati oleh para ahli di seluruh dunia sebagai saat yang terpenting dalam hidup seseorang. Sejak saat perkembangan janin di dalam kandungan, hingga ulang tahun yang kedua menentukan kesehatan dan kecerdasan seseorang. Makanan selama kehamilan dapat mempengaruhi fungsi memori, konsentrasi, pengambilan keputusan, intelektual, mood, dan emosi seorang anak di kemudian hari. Pemberian ASI juga sangat penting, minimal pemberian ASI Ekslusif (sampai bayi 6 bulan) dan hendaknya diteruskan sampai bayi minimal umur 2 tahun,” paparnya.

Kepala Dinas Br. Siig, I Ketut Suardika menyampaikan rasa terima kasihnya atas dilaksanakan kegiatan ini. Dirinya berharap, dengan adanya kegiatan ini, kehidupan di wilayahnya dapat menjadi lebih baik.

Selain Universitas Warmadewa, hadir juga sejumlah narasumber dari lintas sektor, di antaranya Dinas Sosial Provinsi Bali dan Kepala Seksi  Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
Br Siig merupakan salah satu lokasi Kampung KB dari 57 banjar yang dicanangkan sebagai lokasi Kampung KB di masing-masing.