Diposting : 12 May 2017 15:53
San Edison - Bali Tribune
BANDARA
Keterangan Gambar: 
Direksi PT BIBU dan jajaran Komisi III DPRD Provinsi Bali usai presentasi terkait rencana pembangunan bandara di Bali Utara oleh PT BIBU, Rabu (10/5).

BALI TRIBUNE - Kroditnya Bandara Internasional Ngurah Rai, membuat pemerintah mewacanakan pembangunan satu lagi bandara untuk Bali. Dari berbagai kajian, bandara bertaraf internasional dimaksud idealnya dibangun di kawasan Bali Utara. Sayangnya setelah beberapa tahun diwacanakan, rencana pembangunan bandara tersebut tak kunjung terwujud.

Kendala utama yang dihadapi pemerintah selama ini adalah terkait pendanaan. Mengingat pembangunan bandara tersebut diperkirakan menelan anggaran hingga puluhan triliun rupiah, maka baik APBN maupun APBD Provinsi Bali tidak sanggup untuk membiayainya. Karena itu, pemerintah berharap ada pihak swasta yang tertarik untuk berinvestasi.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada investor yang benar-benar serius membangun bandara di kawasan Bali Utara ini. Bahkan ada dua investor yang sudah melakukan presentasi ke kementerian di Jakarta. Dari dua investor tersebut, salah satunya adalah PT BIBU (Bandara Internasional Bali Utara).

Rabu (10/5) lalu, direksi PT BIBU beraudiensi dengan Komisi III DPRD Provinsi Bali, di Gedung Dewan. Turut hadir pada kesempatan tersebut Dinas Perhubungan serta Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi Bali.

Dalam audiensi tersebut, Presiden Direktur PT BIBU Made Mangku, secara umum mempresentasikan rencana pembangunan bandara ini. Ia menjelaskan, bandara di Buleleng dalam perencanaan pihaknya akan dibangun di atas laut. Untuk pembangunan bandara dimaksud, dana yang disiapkan diperkirakan mencapai Rp50 triliun. Dana tersebut sudah termasuk untuk pembangunan infrastruktur pendukung bandara.

Dalam perencanaan PT BIBU, menurut dia, ada lima item besar yang akan dibangun. Pertama, berupa power plan. "Untuk tahap awal, power yang kita bangun kira-kira 50 MW," jelas Made Mangku.

Kedua, aerocity. Ini nantinya diarahkan ke educity. Ketiga, run way dan terminal bandara. Keempat, pembangunan marina internasional. "Ini melebihi Rafless Harlbour di Singapura. Kalau mereka hanya bintang 5, kita bangun bintang 5 plus," tegasnya.

Kelima, pembangunan infrastruktur. "Bagaimana kita manfaatkan bandara ini agar menguntungkan kalau tidak ada infrastruktur pendukung? Karena itu, kita siapkan keseluruhan biaya mencapai Rp50 triliun. Ini sudah termasuk untuk infrastrukturnya," urai Made Mangku.

Ia pun berharap, seluruh komponen terkait dapat mendukung rencana pembangunan bandara ini. "Kalau dari sisi kita, semuanya sudah siap. Perencanaan, pendanaan, semua sudah siap. Kita malah ingin ini segera dibangun. Tetapi biar bagaimanapun, ada prosedur yang harus kita lalui, termasuk di kementerian di Jakarta," tegasnya.

Sementara Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali Nengah Tamba, menegaskan, sejak awal lembaga dewan mendorong agar bandara ini segera terwujud. Ini penting, karena mencermati fakta bahwa pembangunan di Bali saat ini sangat timpang antara kawasan utara dengan selatan.

"Satu-satunya jalan untuk mengurai ketimpangan itu adalah, bangun infrastruktur. Termasuk di antaranya membangun bandara di Bali Utara.
Bandara ini akan menimbulkan multiplyer efek. Karena kalau bandara sudah dibangun, maka pembangunan lainnya akan mengikuti," ujar Tamba.

Terkait presentasi PT BIBU pada kesempatan tersebut, diakuinya, sudah sangat lengkap. Investor bahkan sudah menyiapkan seluruh persyaratan formal, termasuk di antaranya perencanaan dan modal.

"Kalau investor serius. Mereka sudah penuhi semua aturan secara formal, pasti kita dorong. Dan kami yakin, pembangunan bandara ini sudah dekat," pungkas Tamba.