Diposting : 14 January 2019 14:12
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
KHAWATIR - Jembatan gantung Penyaringan yang menjadi akses antarbanjar kini kondisnya mengkhawatirkan.
BALI TRIBUNE - Setelah jembatan lintas utara di Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo yang merupakan akses penghubung Banjar Penyaringan dengan Banjar Anyar Kaja terputus akibat terjangan banjir bandang Tukad Bilukpoh, Mendoyo, kini jembatan gantung yang ada di atas bendung Telepus, Desa Penyaringan menjadi akses satu-satunya yang menghubungan kedua banjar yang dipisahkan daerah aliran sungai (DAS) Bilukpoh. Namun kini kondisi infrastruktur jalan ini mengkhawatirkan setelah senderan di sekitar jembatan ikut jebol tergerus banjir tiga pekan lalu.
 
 Kendati senderan yang merupakan sayap  bendung di areal jembatan gantung Penyaringan jebol bahkan tanahnya longsor hingga menimbulkan lubang akibat longsor cukup dalam di sisi barat bendung, namun dari pengamatan Minggu (13/1) banyak warga kedua wilayah maupun daerah lain di sekitarnya memberanikan diri melalui jembatan gantung selebar 1,5 meter tersebut.
 
Sejumlah warga mengaku setelah jembatan lintas utara putus diterjang banjir bandang, warga terpaksa melalui jembatan gantung ini agar tidak memutar melalui jalur utama. Bahkan warga yang melintas harus bergiliran untuk bisa melalui jembatan ini.
 
 “Kalau melalui jalur utama kami harus memutar lebih jauh bahkan harus ke Bilukpoh, sehingga mau tidak mau kami lewat jembatan gantung ini,” ungkap salah seorang warga, Wayan Sumadi.
 
Bahkan akses jalan dari Banjar Penyaringan menuju jembatan ini pun harus melalui jalan berlumpur. Seling jembatan gantung yang kini menjadi akses warga untuk keluar banjar karena jembatan permanen di Penyaringan putus menurut sejumlah warga juga rawan dan mengkhawatirkan.  Warga mengaku was-was saat melewati jembatan karena jaembatan ini yang awalnya jarngang dilalui motor kini menjadi akses utama warga dikedua banjar.
 
 Bahkan jembatan yang sempat dilakukan perbaikan karena mengalami kerusakan akibat terjangan banjir bandang ini kini rawan putus. "Seling di sisi barat,  penyangganya kami khawatir lama-lama rawan dan bisa putus karena saking ramainya warga yang lewat di sini. Karena tanahnya labil apalagi senderan bedung di bawahnya sudah jebol pascabanjir," kata sejumlah warga lain yang melalui jembatan gantung ini Minggu kemarin.
 
Pengendara motor yang melalui jembatan ini mengaku kondisi jembatan saat dilalui kini sudah goyang. "Kami juga khawatir tiap melalui jembatan gantung karena kini terlalu goyang," kata Wayan Nara.
 
 Warga berharap ada penanganan untuk senderan bendung yang jebol sehingga jika terjadi hujan lebat lagi air tidak menggerus tanah yang ada di sisi barat bendung.
 
Perbekel Penyaringan Made Destra dikonfirmasi membenarkan adanya banyak infrastruktur yang rusak karena banjir bandang di wilayahnya. “Semua sudah dilaporkan ke Pemkab Jembrana. Ada juga yang ditangani sementara secara swadaya” ungkapnya.
 
  Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Jembrana I Wayan Darwin dikonfirmasi mengatakan terkait penanganankerusakan infrastruktur pascabanjir bandang Tukad Bilukpoh, Bappeda Litbang Kabupaten Jembrana kini sudah konsultasi ke Pemprov Bali karena APBD Jembrana 2019 masih dalam tahap verifikasi.