Bali Tribune, Jumat 27 April 2018
Diposting : 29 March 2018 16:13
Redaksi - Bali Tribune
banjir
Keterangan Gambar: 
PUTUS – Jalan yang menjadi jalur evakuasi warga Temukus tampak terputus akibat terjangan banjir lahar Gunung Agung belum lama ini.

BALI TRIBUNE - Terjangan banjir lahar yang berulang kali terjadi saat bencana erupsi Gunung Agung beberapa waktu lalu, membuat akses jalan sekaligus jalur evakuasi warga yang tinggal di lereng Gunung Agung, Desa Adat Temukus, Perbekelan Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem terputus.

Ujung putusnya jalan yang langsung mengarah ke jurang, yang terbentuk akibat gerusan dahsyatnya terjangan banjir itu kini menyisakan lubang maut yang sangat membahayakan bagi warga setempat, utamanya pengendara sepeda motor dari luar desa yang tidak tahu medan.

Jika tidak waspada, motor bisa saja terjun bebas ke badan jalan yang kini berubah menjadi jurang dengan dasar bebatuan sungai sedalam lebih dari enam meter, mengingat posisi putusnya jalan tersebut tepat di tikungan tajam dan pada jalan turunan curam.

I Kadek Swastika, salah satu warga setempat ketika ditemui koran ini sewaktu melintasi jalan yang putus tersebut Rabu (28/3) menyebutkan, jika akses jalan itu terputus ketika terjadi terjangan banjir lahar hujan yang cukup besar beberapa waktu lalu.

Terjangan banjir lahar hujan tersebut tidak hanya memutus satu-satunya akses jalan warga menuju pondok mereka yang berada di bukit lereng atas Gunung Agung, namun juga sanggup membuat batu sebesar mobil truk kecil menggelinding hingga jauh ke hilir.

“Waktu itu banjirnya besar sekali, dan jalan aspal ini putus dan hanyut digerus banjir. Dulunya sungainya tidak dalam seperti ini tapi sekarang sampai dasar sungai sangat dalam dan dipenuhi batu besar,” ungkap Kadek Swastika.

Selain sebagai akses jalan warga menuju pondok mereka di bukit lereng atas Gunung Agung, jalan yang putus itu merupakan satu-satunya jalur menuju Pura Tunggul Besi yang ada di lereng atas Gunung Agung. Artinya saat ini pemedek yang hendak tangkil atau bersembahyang ke Pura Tunggul Besi tidak bisa menuju ke sana, kecuali pemedek itu nekat menuruni ujung jalan yang putus ke dasar sungai lalu naik ke terusan jalan tersebut hingga ke Pura Tunggul Besi sejauh 1.5 kilometer.

Dengan putusnya akses jalan tersebut, warga mengaku cukup khawatir, jika nantinya terjadi bencana erupsi Gunung Agung, pergerakan warga untuk menyelamatkan diri akan lama. Itu juga lantaran sepanjang akses jalan tersebut banyak yang jebol dan ada juga yang tertimbun longsoran dan saat ini sama sekali belum ditangani pemerintah.

“Jelas warga di sini ketakutan dan khawatir, apalagi dengan kondisi jalan seperti ini. memang saat ini sebagian besar warga Desa Temukus ada di pengungsian, namun tidak sedikit pula yang pulang saat siang hari,” ucap warga lainnya Wayan Suradnya.