Bali Tribune, Senin 16 Juli 2018
Diposting : 30 August 2016 15:20
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
hewan
Keterangan Gambar: 
BABI – Di tengah tingginya permintaan babi, warga masih berternak babi Bali secara tradisonal.

Negara, Bali Tribune

Di tengah permitaaan daging babi yang mengalami peningkatan menjelang Hari Raya Galungan, persedian babi di Bumi Makepung Jembrana untuk memenuhi kebutuhan Galungan khususnya yang diternak secara langsung oleh masyarakat saat ini masih mencukupi. Begitupula kualitas daging babi dipastikan memenuhi kreteri aman, sehat dan utuh sebelum dilakukan pemotongan.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Perternakan Kabupaten Jembrana, I Ketut Wiratma ditemui di kantornya, Senin (29/8), membenarkan adanya peningkatan kebutuhan daging babi menjelang Galungan. Permintaan daging babi ini akan semakin meningkat hingga H-1 Galungan atau saat Rahinan Penampahan. Bahkan beberapa warga kini justru sudah memotong babi H-2 Galungan atau saat Rahinan Penyajaan. Babi yang dipotong pun dominan yang berasal dari ternak babi warga sekitar dimana warga saat ini masih eksis dengan sistem patungan, selain juga setiap harinya ada pemotongan babi apakah itu untuk konsumsi, yadnya maupun untuk usaha kuliner.

Kendati tidak ada pengecekan kesehatan secara khusus terhadap ternak babi, namun pihaknya memastikan kondisi ternak Babi yang akan dipotong saat penampahan tersebut dalam kondisi sehat. Menurutnya, beberbeda dengan ternak masyarakat lainnya seperti sapi atau kambing yang pada umumnya diternak secara berkoloni, untuk ternak babi dilakukan di rumahan dalam jumlah yang relatif kecil, sehingga sejak masih bibit hingga menjelang pemotongan, kondisi kesehatannya terkontrol langsung oleh pemiliknya walaupun dipelihara secara tradisional.

Ia menyebutkan, warga yang memelihara babi pada umumnya sangat teliti dan jauh lebih peka dengan kondisi ternak mereka, sedikit saja ada gangguan kesehatan pada ternak seperti tidak mau diberi pakan atau diare, warga sudah langsung menghubungi dokter hewan terdekat. Bahkan dari data jumlah ternak babi secara tradisional oleh warga, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan jumlah babi yang ada diperternakan karena rata-rata setiap kepala keluarga terutama yang bermukim di pedesaan berternak dua ekor babi.

Populasi babi saat ini mengalami peningkatan dibanding hewan ternak lainnya. Saat ini pupulasi babi mencapai 65 ribu, sedangkan populasi sapi 51 ribu, dan populasi kambing mencapai tujuh ribu. Produksi babi sangat cepat, dari bibit hanya membutuhkan waktu minimal empat bulan sudah bisa dipotong. Harga babi saat ini mengalami fluktuasi dan pihaknya pun mengakui tidak bisa mengintervensi harga Babi. Sepekan menjelang galungan harga babi yang belum dipotong sudah mencapai Rp 27 ribu per kilogram. Babi yang paling banyak diternak adalah babi jenis Lendris, sedangkan babi lokal Bali maupun sadle black populasi dan permintaanya semakin menurun.

Kepala Dinas Perindustiran Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Jembrana, I Made Sudantra menyatakan permintaan daging babi di pasar lebih sedikit dibanding dengan babi yang dipotong langsung oleh warga karena sistem mepatung masih tinggi. Sesui sidak pasar yang dilakukan pihaknya, Senin kemarin, harga daging babi dipasaran saat ini mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Tingginya harga daging babi ini selain dipengaruhi permintaan yang meningkat menjelang hari raya Galungan, juga sepekan sebelum galungan banyak warga yang melaksankan upacara yadnya sehingga kebutuhan babi meningkat.

Menjelang galungan ini, menurutnya, tidak dilaksanakan pemeriksaan secara khusus terkait kesehatan daging babi karena pada umumnya lebih banyak warga yang memotong secara langsung babi yang diternak di perumahan. Tetapi pihaknya akan melakukan sampling untuk pemeriksaannya bekerjasama dengan Dinas Kesehatan.