Bali Tribune, Selasa 21 November 2017
Diposting : 11 May 2016 14:33
redaksi - Bali Tribune
UNPK
Keterangan Gambar: 
I Wayan Rajeg

Gianyar, Bali Tribune

Seorang seniman  paruh baya, I Wayan Rajeg (57) warga  Banjar Pakudui, Kedisan, Tagallalang  sangat antusias mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket B. Meski sudah bercucu, seniman serba bisa ini menunjukkan  keseriusannya mengikuti ujian hari kedua,  Selasa (10/6).

Dengan percaya diri,  Rajeg menjawab semua soal dengan yakin, bahkan dia tidak peduli dengan rekan-rekannya yang terlihat  kesulitan menjawab soal. Sesekali dia mengernyitkan dahinya saat menjawab soal ujian Paket  B yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Menengah  Kabupaten Gianyar, di  SDN 5 Tegallalang. “Lumayan susah soal-soal ujiannya. Tapi syukurlah  dapat saya jawab dan yakin pasti benar,” yakinnya.

Meski tak muda lagi, kakek dua cucu ini  mengaku tidak malu apalagi minder mengikuti ujian. Selama  masih bernapas, baginya pantang untuk tidak menuntut ilmu. “Pendidikan itu penting sekalipun sudah tua, kayak saya,” kata  mantan Bendesa Adat  Pakudui ini.

Pernyataan kakek kelahiran 21 Agaustus  1959 ini memang dibuktikan dengan keseriusannya mengikuti UN.  Rajeg tercatat  sebagai siswa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)  Widya Merta Shanti Tegalalalang.  Sebelum mengikuti ujian, Rajeg  mengaku sudah melakukan persiapan dengan cara belajar agar bisa sukses menyelesaikan dan lulus ujian nasional.

“Selama tiga tahun mengikuti pelajaran setiap hari Jumat dan Minggu, saya berupaya untuk tidak absen. Kecuali ada upacara adat yang tak mungkin saya tinggalkan,” terangnya.

Kakek yang sehari-hari  sebagai pematung Garuda Wisnu ini bertekad untuk mendapatkan ijazah setara SMP dan selanjutnya ingin melanjutkan ke Paket C.  “Dula saya hanya sekolah sampai SD itupun tak tamat. Kemudian  setelah menikah,  saya melanjutkan program oper A sejenis Paket A. Kini ikut  program Paket B. Setelah lulus di paket B, mudah-mudah saya masih dikasi umur untuk bejar dan melanjutkan ke Paket C,“ harap suami  Ni Wayan Genep ini. 

Menurutnya, bagi sebagian orang mungkin berpendapat jika sudah tua, ijazah itu tidak ada gunanya. Apalagi kini ijazah dapat dibeli, seperti banyak diberitakan di media massa. “Saya sudah banyak mendapatkan ilmu di lapangan karena pengalaman. Namun saya butuh ilmu formal. Bagi saya,  meski besok mati, setidaknya saya bisa memberi contoh kepada generasi bangsa ini,” tambahnya. Meski  tamatan kejar paket, Rajeg bangga karena anak-anaknya semua sudah sarjana.

Sementara pengelolan  PKBM  Widya Merta Shanti, Nyoman Udyatmika menyebutkan,  untuk tahun ini  UNPK Paket B di tempatnya diikuti 25 orang dari 29 orang yang ikut program.  Sementara empat lainnya  tidak mengikuti ujian karena situasi dan kondisi tertentu.