Diposting : 23 August 2017 21:00
Arief Wibisono - Bali Tribune
peternak
Keterangan Gambar: 
Jero Putu Tesan (tengah) bersama Yudik dari rumah aspirasi AMATRA (kiri) dan salah seorang peternak babi.

BALI TRIBUNE - Kabar gembira rupanya berhembus dari para petani/peternak babi Bali yang sudah mulai bisa mengirimkan babinya ke luar daerah seperti Jakarta. Tentu hal ini tidak sekonyong-konyong terjadi begitu saja.

Setelah melalui jalan berliku yang kemudian difasilitasi Dirjen Peternakan, Anggota DPR-RI Komisi IV yang membidangi pertanian dalam arti luas, A A Bagus Adi Mahendra Putra, dalam bentuk FGD (Focus Group Discussion) beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali akhirnya mengeluarkan rekomendasi pengiriman babi bagi peternak/petani. “Kami berterima kasih pada semua pihak yang telah memfasilitasi dalam mengeluarkan izin pengiriman babi ke luar daerah seperti Jakarta,” ujar salah seorang peternak asal Tabanan, Jero Putu Tesan, dari rumah aspirasi AMATRA di daerah Kerobokan, Senin (21/8).

Jero Tesan begitu kerap disapa menyatakan progres dari FGD (Minggu, 13/8) dianggap sangat luar biasa dimana dengan adanya izin tersebut langkah awal pihaknya bisa mengirim babi hidup ke Jakarta 70 ekor tiap minggunya. Dan menurutnya kondisi ini akan berkembang dan berjalan terus seiring dengan kebutuhan babi di Jakarta saat ini. “Kebutuhan pasar akan suplai babi Bali masih sangat terbuka sekali, apalagi bagi PD Dharma Jaya yang ada di Jakarta kebutuhan babinya setiap hari sekitar 900 ekor. Tentu ini potensi yang sangat besar bagi peternak yang ada di Bali,” ungkapnya.

Namun demikian Jero Tesan menyebutkan untuk memenuhi kebutuhan babi yang begitu besar di Jakarta biasanya mendatangkan dari Solo dan Lampung. “Padahal dari yang pertama kita kirim babi Bali termasuk yang berkualitas, dan hasilnya terbaik,” tukasnya seraya mengatakan kepastian pasar sangat penting bagi peternak, dan tentu peternak akan bergairah apalagi jika pemerintah mau turun langsung memfasilitasi dari segi pembinaan, pendampingan, ataupun dari segi tata niaganya dalam menjaga serta meningkatkan kualitas, kontinuitas, dan kuantiti.

Bahkan ia mengungkapkan kedepannya pihaknya akan meningkatkan lagi pengiriman babi ke Jakarta setiap minggunya sekitar 200 ekor dari 300 ekor yang tersedia. “Padahal potensi pasar bukan hanya di Jakarta namun Bandung, Surabaya, serta kota kota besar lainnya. Tapi kita hitung Jakarta dululah, setelah itu tercukupi baru kita ekspansi ke lain daerah,” tandasnya penuh harap, disamping juga kedepan pihaknya menjajaki peluang ekspor babi tidak hanya babi hidup tapi dalam bentuk babi beku (Frozen -red). “Kita lagi jajaki pembangunan coolstorage di daerah Bajra, Pupuan, dan Seririt dalam memenuhi kebutuhan babi beku untuk ekspor ataupun lintas pulau,” imbuhnya.

Sedangkan dari tempat yang sama salah seorang petani/peternak babi pemilik UD Tirta Agung yang juga asal Tabanan, Made Sudarmawan menambahkan persoalan yang kerap dihadapi para peternak yaitu dari sisi ras (genetik -red) masih kurang, karena yang selama ini terjadi pihaknya hanya melakukan kawin silang, dan ini berakibat pada berkurangnya genetik yang tersedia. “Kita berharap pemerintah bisa memberikan genetik yang baru, tentu dalam rangka menjaga kualitas babi Bali,” tukasnya sembari mengakui meski dalam keterbatasan harus melakukan kawin silang namun babi Bali masih bisa merambah pasar di Jakarta, apalagi dengan genetik kualitas unggul.