Diposting : 2 May 2017 20:24
Djoko Purnomo - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Made ‘Dendy’ Mandiyasa DAN V, mengenakan sabuk Hitam (DAN I) kepada Kapolres Klungkung AKBP FX Arendra Wahyudi, di GOR STP Nusa Dua, Minggu (30/4).

BALI TRIBUNE - Gashuku atau ujian kenaikan tingkat yang dihelat Pengprov Persaudaraan Keluarga Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Bali, Sabtu dan Minggu (29-30/4) lalu di GOR Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua), mengundang perhatian tersendiri. Pasalnya, dua publik figure, yakni Kapolres Klungkung AKBP FX Arendra Wahyudi  dan Camat Busungbiu Made Sudama Diana turut berbaur bersama 110 peserta lainnya, dan sama-sama kini menyandang DAN I.

 Ketua Harian Pengprov Perkemi Bali Fredrik Billy, menyatakan, tidak ada perlakuan  istimewa dalam ujian kenaikan tingkat.   Kapolres Klungkung AKBP FX Arendra Wahyudi  dan Camat Busungbiu Made Sudama Diana bersama-sama dengan peserta lainnya, diwajibkan mengikuti Saishin Hattasu Shorinji Kempo pasca pelantikan.

“Setelah pelantikan peserta langsung mengikuti tradisi Saishin Hattasu Shorinji Kempo atau penggemblengan mental, di antaranya berguling-guling di atas matras dan mendapat cambukan dari sensei,”ujar Fredrik Billy.

Kedua pejabat ini dalam sesi penggemblengan mental juga wajib melakukan dan mendapat cambukan di badannya, semuanya mendapat perlakuan sama. Keduanya mengikuti ujian kenaikan tingkat dari  Kyu I menuju DAN I atau  dari sabuk coklat ke sabuk hitam.  

Kapolres Klungkung FX Arendra Wahyudi, mengakui proses tersebut  juga  dilakukan ketika mengikuti kegiatan sama dari tingkatan Kyu. Menurut Arendra Wahyudi, kempo sudah dikenalnya sejak duduk di bangku sekolah dasar, membawa dirinya tak bisa terlepas, karena doktrinnya yang luar biasa.

Doktrin shorinji kempo, yakni kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman. Doktrin ini mengandung makna luar biasa bagi para kenshi yang mendalami seni beladiri shorinji kempo. Belajar kempo adalah keseimbangan antara kekuatan dan moral. Jika tidak seimbang, hanya kekuatan saja kenshi akan jadi preman, tetapi jika hanya moral saja akan menjadi suatu kelemahan.

“Doktrin itu membuat saya semakin memperkuat kemauan untuk terus mengikuti tingkatan di cabang kempo, karena terdapat perbedaan gerakan disetiap tingkatan,” kata Kapolres Klungkung, yang menambahkan menjadi tugas dirinya untuk mengembangkan cabang kempo terutama kepada anggota.

Sementara Camat Busungbiu, Buleleng, Made Sudama Diana  mengatakan setelah menyandang DAN I, mengaku merasa masih ada ganjalan jika tidak mengikuti tingkatan di cabang kempo, karena berlatih kempo mengandung makna positif bagi para kenshi.  Karena sudah mendarah daging, Made Sudama Diana akan terus meningkatkan kualitas diri untuk mengikuti rangkaian  capaian DAN di cabang Kempo. “Saya mengenal kempo sejak SMP, dan baru bisa mengikuti kenaikan tingkat ke DAN I, setelah sebelumnya Kyu I yang digenggam selama satu tahun,” ujarnya.

Camat Busungbiu Buleleng itu, kini menyandang sabuk hitam atau DAN I, yang salah satu kewajibannya mengembangkan cabang kempo di wilayahnya. “Tugas tersebut sangat mulia untuk dijabarkan, apalagi Kecamatan Busungbiu merupakan salah satu basisnya cabang olahraga beladiri asal Jepang ini,” jelasnya.