Bali Tribune, Senin 28 Mei 2018
Diposting : 5 May 2018 15:33
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
Garuda Indonesia
Keterangan Gambar: 
INDIA -- sejumlah wisatawan dari India sesaat setelah mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai

BALI TRIBUNE- Traffic kedatangan wisatawan asal India di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selama Januari-Maret 2018 mencapai sekitar 61 persen dari jumlah total kebangsaan/negara yang mendarat di Bali.

Demikian disampaikan Kepala Humas Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim, beberapa waktu lalu. Jika dibandingkan dengan tahun 2016 dan 2017, kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) India di bandara tersebut pertumbuhannya cukup signifikan, yakni 38,13 persen. "Growth-nya memang sangat tinggi, meskipun jumlahnya kecil," papar Arie.

Kedatangan wisman dari Tanah Hindustan ini melalui Bandara Ngurah Rai jika dibandingkan bulan yang sama tahun 2017, periode tahun ini tumbuh mencapai 61,65 persen. Namun, secara rata-rata perbulannya terjadi pertumbuhan 1,8 persen.

Bahkan kedatangan turis India melalui Bandara Ngurah Rai menempati posisi ketiga tertinggi setelah Tiongkok dan Australia. "Potensi pasar India memang cukup menjanjikan, karena India itu secara nationality ada di berbagai Negara, baik itu Australia, Malaysia, dan India sendiri," jelas Arie.

Saat ini, maskapai berbiaya rendah (low-cost carrier/LCC) AirAsia memiliki rute Denpasar-India (pergi pulang/pp). "AirAsia selaku airline yang menetapkan rutenya dari Kuala Lumpur mempunyai proporsional wisatawan India cukup banyak," sebutnya

Menurut Arie, adanya penerbangan AirAsia rute (Denpasar-Mumbai-Denpasar) dan ditambah maskapai Garuda Indonesia dengan rute yang sama, hal ini menambah frekuensi atau ketertarikan warga negara India datang ke Pulau Dewata. Saat ini, hanya AirAsia dan Garuda Indonesia yang terbang langsung dari Denpasar ke India. Selain India, dia berharap agar penerbangan langsung ke negara lainnya, yakni Denpasar-Rusia-Denpasar bisa dilakukan.

Mengingat, negara tersebut juga berpotensi sebagai pangsa pasar Bali, begitu pun dengan negara lainnya. Diakuinya, untuk “slot time runway” di Bandara Ngurah Rai masih bisa dikembangkan, sebab saat ini baru mencapai 27 slot dengan kapasitas maksimal 35 slot.

Namun, slot apron belum bisa memenuhi hal tersebut. "Karena itulah, 60 slot penerbangan yang ingin masuk ke Bali terus ditunda. Hal itu berasal dari 38 penerbangan internasional dan 22 penerbangan domestik. Kalau dari internasional yang banyak mengajukan adalah dari rute Iran, Cina, Singapore, Australia, dan negara lainnya," bebernya.