Diposting : 17 May 2017 21:18
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
Esthy Reko Astuty
Keterangan Gambar: 
Esthy Reko Astuty

BALI TRIBUNE - Selain sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), pariwisata juga berkontribusi terhadap devisa nasional dan tenaga kerja. Sehingga pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata RI semakin mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Demikian disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI, Esthy Reko Astuty, saat Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Pedoman Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara di Denpasar beberapa hari lalu.

Menurutnya, saat pertumbuhan ekonomi sedang turun yang bisa memberikan devisa dalam waktu singkat adalah sektor pariwisata. Pariwisata sebagai penyumbang PDB, devisa, dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah. Dipaparkan Esthy, pariwisata nasional juga penyumbang 10 persen PDB nasional, dengan nominal tertinggi di Asean. PDB pariwisata nasional tumbuh 4,8 persen dengan tren naik sampai 6,9 persen, jauh lebih tinggi daripada industri agrikultur, manufaktur otomotif dan pertambangan.

Spending USD 1 juta di sektor pariwisata menghasilkan PDB USD 1,7 juta atau 170 persen tertinggi dibanding industri lainnya. “Saat ini pariwisata peringkat keempat penyumbang devisa nasional sebesar 9,3 persen dibanding industri lainnya. Pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata tertinggi yaitu 13 persen dibandingkan industri minyak gas bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit yang pertumbuhannya negatif. Biaya marketing yang diperlukan hanya 2 persen dari proyeksi devisa yang dihasilkan,” papar Esthy.

Dia juga menyebutkan, pariwisata juga sebagai penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan atau sebesar 8,4 persen secara nasional dan menempati urutan keempat dari seluruh sektor industri. Dalam pencapaian lapangan kerja, sektor pariwisata tumbuh 30 persen dalam waktu 5 tahun. Pariwisata pencipta lapangan kerja termurah yaitu dengan USD 5000/satu pekerjaan dibanding rata-rata industri lainnya sebesar USD 100000/satu pekerjaan. Kontribusi pariwisata terhadap devisa disaat migas, batu bara, kelapa sawit mengalami tren penurunan, pariwisata sebagai penyumbang devisa keempat justru semakin tumbuh,” katanya.

Sedangkan saat ini disebutkan Esthy, daya saing pariwisata Indonesia meningkat dari peringkat 70 menjadi peringkat 50 dunia. Menurutnya, tahun 2017 ini peringkat daya saing pariwisata Indonesia di TTCI Travel and Tourism Competitiveness Index oleh World Economic Forum naik dari 50 ke 42 besar. Jika dilihat kondisi pariwisata nasional pada tahun 2016 lalu memberikan kontribusi terhadap PDB 11 persen dan ditargetkan tahun 2019 mendatang naik menjadi 15 persen.

“Terkait devisa pada 2016 pariwisata nasional menyumbang devisa Rp172 triliun dan ditargetkan pada 2019 mendatang naik menjadi Rp240 triliun. Selain itu juga pariwisata nasional memberikan kontribusi sebanyak 11,8 juta kesempatan kerja pada 2016 lalu dan diharapkan pada 2019 menjadi 13 juta kesempatan kerja,” jelas Esthy. Sementara itu, indeks daya saing kepariwisataan pada 2019 mendatang ditargetkan menduduki peringkat 30 dunia. Sedangkan kedatangan wisatawan mancanegara ditargetkan 20 juta orang dan wisatawan nusantara sebanyak 275 juta orang.