Bali Tribune, Sabtu 23 Juni 2018
Diposting : 13 January 2018 20:06
Arief Wibisono - Bali Tribune
premium
Keterangan Gambar: 
BERAS - Bongkar muat beras yang didatangkan dari Sumbawa di salah satu distributor.

BALI TRIBUNE - Naiknya harga beras dalam sebulan terakhir menimbulkan banyak keprihatinan. Pemerintah sudah semestinya harus bertindak dan segera mengatasi persoalan ini. Jangan sampai kebijakan yang diambil menimbulkan persoalan baru.

Pemerintah jangan mengeluarkan kebijakan-kebiajkan yang menimbulkan panic buying seperti operasi pasar besar-besaran maupun impor. “Dalam seminggu ini harga beras bisa naik sampai dua-tiga kali jelas menyulitkan kita sebagai distributor,” ujar salah seorang distributor beras yang berlokasi di Jalan Gunung Agung saat dikonfirmasi, Jumat (12/1).

Ia berpendapat naiknya harga beras yang bertahan cukup lama ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah. Dia mengakui, pihaknya cukup dibuat pusing dengan kondisi yang terjadi. “Hari ini saja saya baru mendatangkan beras dari Sumbawa sekitar 18 ton, dan katanya ini yang terakhir sampai nunggu panen yang berikut,” tuturnya.

Dengan adanya Operasi Pasar (OP) yang dilakukan Bulog dianggap belum cukup mengendalikan harga dipasaran. Keadaan tersebut diperparah dengan minimnya minat masyarakat yang mengkonsumsi jenis beras medium.”Masyarakat kita lebih suka beras jenis premium dan beras Tabanan,” jelasnya.

 Meski Bulog telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp9.450 rupiah per kg untuk jenis medium dan Rp12.800 untuk beras premium, harga akan terus mengalami kenaikan. Secaraterpisah, Kepala Kantor Perwaklian Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Causa Iman Karana, mengatakan, sebenarnya stok beras untuk Bali dalam beberapa bulan ke depan dianggap aman.

Namun, dengan bergolaknya harga beras di pasaran pihaknya berjanji akan segera berkordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali terutama dalam kaitannya dengan inflasi yang bisa dipicu oleh naiknya harga beras. “Kami akan menelisik lebih dalam dengan BPS kecenderungan naiknya harga beras dipasaran dalam upaya meredam inflasi,” ucap CIK.

Dijelaskan pula tergerusnya luas lahan pertanian kedepan jadi ancaman produksi beras. Untuk mengatasi persolan itu, BI melalui program cluster pengembangan padi berusaha mendorong terpenuhinya pasokan. “Program ketahan pangan melalui pengembangan cluster terus kita dorong, minimal untuk tercukupinya kebutuhan beras di Bali,” tutupnya.